Friday, August 26, 2011

Kenapa Mati Lampu?


oleh Juan Mahaganti pada 28 Oktober 2009 jam 16:39
Pendahuluan

Sementara saya menulis karangan ini, lampu sedang mati dan saya ditemani cahaya dua lilin. Hati sempat bertanya, apa bedanya metode ini dengan cara para rasul Perjanjian Baru dulu dalam menulis surat? Sensasi menulis diterangi cahaya lilin membuat saya merasa sangat primitive. TEtapi mari lihat sisi positifnya; paling tidak ballpoint dan buku saya sangat canggih. Tidak seribet yang dipakai para rasul dulu. Harganya pun murah. Balpoint ini seharga kurang lebih Rp. 2,000 dan buku seharga Rp. 500. Cukup untuk menyimpan jutaan kata. Dan jangan lupa, kopi instant nikmat capucino, membuatku merasa seperti di Italia. SEbuah kemewahan dalam setiap tegukan, yah, sebuah kemewahan jika dibandingkan dengan para rasul dulu. Tetapi kemewahan ini dibayar seharga Rp. 1,500, membuatnya bukan lagi kemewahan. Pikiran positif ini membuatku berpikir akan satu hal : Ya Tuhan, terimakasih karena buku, ballpoint dan kopi bukanlah industry yang dikuasai oleh negara. Apa jadinya kalau demikian!!!

Tetapi kekuatiran menyelimuti pikiranku. Lilin semakin luas dipakai dan makin “menguasai hajat hidup orang banyak.” Sehingga bisa saja pemerintah menasionalisasi perusahaan lilin dan membantuk PLN (Perusahaan Lilin Negara). Ya ampuuuun!! Dengan apa kita akan menerangi kegelapan ini???

Menjawab Pertanyaan Ini Secara Ekonomi atau Fisika?

Semenjak dulu, bagi saya, listrik benda yang sangat, sangat misterius. Jika duduk sebangku di cafeteria dengan teman-teman kerja dari bagian IT (information technology), saya selalu bergurau bahwa listrik itu hal yang paling tidak bisa dimengerti. Bagi saya, lebih mudah mengerti sihir, dari pada listrik. Yaaah!!! Jangan anggap diri saya bodoh, kalau anda sudah merasa pandai, coba jelaskan bagaimana bisa dari sebuah colokan listrik disambungkan ke laptop saya, lalu saya tekan tombol A, dan A itu muncul di layar. Bagaimana? Atau, jelaskan bagaimana bisa saya menekan 8 di tombol remote control dan saluran berpindah ke nomor delapan, yang secara luar biasa, mengirim gambar secara langsung ke saya dari London, wow!!! Jelaskan kalau anda bisa!!! Bagaimana itu bisa???? Seperti yang saya katakan, lebih gampang mengerti sihirKenapa ketika mantera terucap, sesuatu terjadi? Gampaaang; karena setan bereaksi atas mantera, dan kekuatannya bekerja dengan permintaan tersebut, habis perkara. Itulah menurut saya, listrik adalah sebuah keajaiban, dan saya mengakui kejeniusan setiap orang yang mampu membangkitkan listrik dan menciptakan alat yang memanfaatkannya.

Jika anda sekarang bertanya, apa yang menciptakan listrik? Anda ingin bertanya secara fisika? Sebagai orang yang bodoh fisika, saya tidak bisa memberi jawaban memuaskan. Tetapi saya akan coba menjawab. Hmmm, listrik itu adalah hasil dari electron yang katanya melompat (melompat? Seperti katak mungkin), dan karena dia rajin melompat jadi menciptakan kejutan listrik (surprise!!!! Dan anda pasti melompat, mungkin seperti itu). Kejutan ini dialirkan melalui kabel dan digunakan untuk menyalakan listrik (bingung kan? Sama, saya juga bingung). Pertanyaannya, lalu kenapa mati lampu? Kalau anda bertanya sekali lagi secara fisika, hmmm… Begini, mati lampu disebabkan karena tidak ada listrik. Manado dan Bitung sering mengalami mati lampu karena jarang turun hujan sehingga arus pembangkit melemah, teganan pun kurang (tegangan turun tetapi tegangan darah penduduk naik karena marah-marah), sehingga tidak mampu memenuhi kuota. Jadi harus ada pemadaman, bla… bla… bla… seperti yang selalu dijelaskan oleh para birokrat. Ok. Secara fisika, inilah kira-kira jawaban pertanyaan anda. Tetapi ijinkan sekarang saya menjawab dengan pendekatan cabang ilmu dimana saya agak tahu sedikit; secara ekonomi.

Menjawab Secara Ekonomi

Pertanyaan kenapa mati lampu jika ditanya secara fisika, jawabannya gampang: Karena tidak ada listrik. Tetapi menurut saya pertanyaan ini tidak cocok jika hanya dijawab secara fisika. Untuk mencari tahu akar masalah, kita harus menjawab ini dari ilmu yang menjawabnya sampai ke dasar! Ke Kausa Prima dari masalah! Jika anda bertanya, apa yang membangkitkan listrik sehingga berguna bagi hidup manusia? Jawabannya bukanlah harus dijawab secara fisika, tetapi ekonomi. Apa jawabannya? Karena Kreatifitas manusia yang merubah energy liar di alam ini menjadi hal yang sangat berguna.

Penggunaan listrik yang begitu membantu hidup kita adalah hasil pemikiran begitu banyak pemikir. Kita harus berterima kasih kepada mereka. William Gilbert, Otto von Guericke, dan Benjamin Franklin menjadi perintis penyelidikan benda aneh ini. Mereka menyumbangkan bagi pengetahuan, kerangka pemikiran dasar untuk memahami energy yang ada tetapi tidak kelihatan ini. Dengan menggunakan berbagai hukum fisika tentang listrik yang dikembangkan oleh Ohm, Volta, Ampere, Oersted, Faraday, dan begitu banyak ilmuwan jenius lainnya, manusia punya kemampuan untuk mengembangkan energy baru ini. Ditemukannya energy ini bisa dibandingkan dengan kesuksesan ketika manusia menemukan api. Kita bisa menduplikasi kekuatan matahari yang selama ketersediaanya hanya sesuai dengan dikte alam : hanya siang hari. Tetapi kini energy itu bisa kita panggil dari alam dengan tangan kita sendiri. Kita sudah temukan energy ini, sekarang saatnya menemukan alat untuk memanfaatkannya.
Penemuan ini dirintis oleh banyak ilmuwan, tetapi tidak ada yang seterkenal Thomas Alva Edison. Dengan kejeniusannya Edison menciptakan begitu banyak mesin yang memanfaatkan energy listrik ini. Dan dia menjadi kaya raya karenanya. Abad 20 kita melihat begitu banyak sekali penemuan yang menggunakan energy ini. Penemuan ini mempermudah hidup kita dan membuat kita sangat bergantung pada listrik.

Ok. Jika anda tanya kenapa listrik bisa menyala, dan kenapa begitu banyak alat yang bisa diciptakan memanfaatkan alat ini, jika anda bertanya, kenapa lampu menyala, TV bisa menyala, Laptop bisa menyala, jawabannya secara ekonomi adalah: Karena daya kreasi manusia yang dibebaskan dari tekanan pengatur! Inilah sumber pembangkit tenaga listrik yang sebenarnya, hasrat manusia untuk memperbaiki hidupnya, menciptakan untuk memenuhi kebutuhannya, dan pada saat yang sama berkontribusi untuk kebaikan begitu banyak manusia lain. Kebebasan berusaha memunculkan harmonisasi dan melepaskan begitu banyak kejeniusan manusia, inilah tenaga sebenarnya dibalik menyalanya listrik!

Harmonisasi in berlanjut sehingga listrik menyebar penggunaannya sampai di Sulawesi Utara. Perhatikan bahwa begitu indahnya harmoni penciptaan dan kreativitas ini terus dipacu. Secara fisika, energy listrik tercipta melalui proses dalam generator. Tetapi secara ekonomi (dan pada kenyataannya), listrik tercipta dari rangkaian listrik yang terjadi dalam otak hebat manusia. Bahan bakar utama dari terciptanya tenaga listrik adalah kreatifitas dan semangat kerja manusia yang mana bahan dasarnya adalah kebebasan berusaha dan persaingan usaha yang adil dan bebas.

Dikuranginya Bahan Bakar Pembangkit Listrik

Apa yang terjadi jika sebuah mesin kehabisan bahan bakar? Mogok dong. Nah, kita sudah pelajari bahwa bahan bakar utama dari listrik adalah kreativitas dan semangat kerja manusia. Mesin pembangkit lisrik akan tetap menyala selama bahan bakar ini ada. Dari mana semangat kerja ini datang? Dari kebebasan berusaha dan persaingan. Tanpa dua hal ini, tidak pernah akan muncul kreatifitas dan semangat kerja. Kita sudah pelajari bahwa persaingan menciptakan pelari yang lebih cepat, pelompat yang lebih tinggi, dan ilmuwan yang lebih pintar.

Tetapi suatu saat dalam sejarah, datanglah sekelompok orang bernama pemerintah yang tidak tahu bahwa mereka sedang menguras habis bahan bakar pembangkit tenaga listrik ini. Mereka percaya bahwa listrik ini harus demi kebaikan bersama maka hanya merekalah (pemerintah) yang berhak untuk mengelolanya. Walaupun mereka tidak berpengalaman dalam mengurus listrik. Dalam proses terciptanya listrik, tidak pernah pemerintah berkontribusi (kecuali dalam memastikan keamanan dan persaingan yang bebas), tetapi pemerintah tetap ngotot mau memonopoli produksi listrik. Mereka pada saat yang sama menghancurka sumber utama bahan bakar pembangkita listrik (kreativitas dan semangat kerja manusia), yaitu kebebasan dan persaingan usaha. Mereka mengeluarkan peraturan baru, bahwa hanya satu grouplah yang boleh memonopoli penciptaan listrik (dengan dalih bahwa industry listrik mengarah pada monopoli alamiah, dll).

Ketika monopoli ini mulai diberlakukan, mulai menumpulah daya cipta dan semangat kerja. Tanpa persaingan, pekerja paling rajin sekalipun akan menjadi malas. Tanpa persaingan, kreativitas tidak diperlukan, karena tanpa kreativitaspun sang pe-monopoli bisa tetap berkuasa. Dengan monopoli ini, mulai mandeklah bahan bakar pencipta listrik.

Bagaimana Agar Lampu Ini Menyala Lagi?

Bahan bakar pencipta listrik justru berlimpah ketika campur tangan pemerintah dilongarkan. Dan ketika pemerintah memonopoli, hal sebaliknya terjadi; Bahan Bakar (daya cipta dan kerja keras manusia) habis! Setelah habis?! MATI LAMPUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!

No comments: