Friday, August 26, 2011

Juan tentang Persahabatan!

oleh Juan Mahaganti pada 12 Januari 2009 jam 7:45

This writing is response to my comrade, Jeremiah’s writing; Friends For-over.


Bapak Jerome, terus terang, anda membuat tulisan yang luar biasa tentang persahabatan. Seperti yang saya sudah janjikan kepada kepada pembaca sekalian sebelumnya dalam tulisan hadiah saya untuk saudara Jerome, bahwa saya ingin menulis tentang persahabatan. Hari ini niat saya terkabul, dan inilah cerita saya tentang persahabatan.


Tentu saja persahabatan bukanlah bahan baru, in my computer I have a writing about friendship dated from 1st Century B.C. written by Roman orator, Cicero in which he defined friendship asa complete accord on all subjects human and divine, joined with mutual goodwill and affection. It is also wonderful that Cicero addressed that friendship can only be formed by good men. It reminded me with a statement: Your success with your life determined by your friendship. Setelah menimbang begitu lama saya akhirnya datang dengan kesimpulan yang tidak lama lagi anda akan ketahui.


pernyataan saudara Jerome, friendship for-over adalah bisa saja untuk sementara kita sebut sebagai hal yang tepat. Persahabatan sangat mudah luntur, jauh lebih mudah dari pada hubungan social lain seperti, perkawinan, persaudaraan dan cinta yang beberapa diantaranya berlangsung dalam jangka waktu sangat panjang, bahkan sampai pada akhir hidup seorang individu. Kenapa demikian? Tentu saja seperti kata Lewis dalam bukunya “The Four Loves” bahwa persahabatan adalah cinta kasih yang paling tidak biologis. Apa maksudnya? Coba kita bandingkan persahabatan dengan jenis hubungan yang lain, dalam hal ini, hubungan cinta dan hubungan keluarga.


Cinta atas dasar Gen.


Petanyaan yang sering saya tanyakan di kepala saya adalah; kenapa ibu, bapak dan kakak saya lebih menyayangi saya dibanding orang lain. Saya kurang mendapat jawaban yang memuaskan. Tentu saja jawaban paling tolol, dungu, gampangan dan pragmatis adalah jawaban orang tak mau berpikir seperti: karena kamu anak dan saudara mereka. Itu adalah jawaban gampangnya. Menurut saya, cinta mereka yang begitu besar adalah karena gene yang saya bawa. Saya rasa, semakin dekat hubungan gen kita, semakin kuat cinta kita. Contoh nyata adalah cinta orang tua terhadap anaknya. Pasangan suami dan istri pasti sangat mencintai anaknya melebihi anak orang lain. Ini tentu saja karena dua alasan. Pertama, karena hasrat kita untuk meneruskan keberadaan species kita. Tetapi alasan ini tentu saja tidak cukup, karena kalau memang hanya ini alasannya, tentu saja sang Pasutri akan mencintai anak orang lain, karena bukankah anak orang lain tersebut juga menjalankan tugas meneruskan keberadaan spesies. Tetapi tidak begitulah keadaannya. Pasutri pasti mencintai anaknya melebihi anak orang lain. Jawabannya tentu saja karena anak mereka mewarisi gen mereka. Tentu saja mereka saling berbagi gen mereka terhadap sang anak.


Bagaimana dengan kasih antara para keluarga? Antara kakak dan adik, paman dan ponakan. Saya rasa, lebih mirip kode dalam gen kita, maka cinta kita semakin besar. Kakak dan adik tentu saja punya kemiripan gen, karena mereka berbagi gen dari sumber yang sama, yaitu orang tua mereka. Kita sering mendengar bahwa seorang saudara kembar sangat-sangat menyayangi saudaranya. Tentu saja demikian karena mereka punya gen yang sangat mirip. Secara sederhananya, jika seorang manusia adalah computer, maka ketika dia diproduksi dari pabrik, maka software yang diinstal kedalam otaknya sudah membuat dia otomatis mencintai anaknya, ibunya, ayahnya, saudaranya, lebih mudah dari pada mencintai orang lain. Software ini bekerja dengan cara mengidentifikasi kemiripan gen. Lebih mirip gen, maka lebih mudah untuk mengasihi. Inilah dasar dari cinta keluarga. Jadi, inilah alasan kenapa secara alami kita mencintai keluarga kita melebihi yang lain. Tentu saja sebagaimana beberapa produk punya cacat, begitu pula system dalam diri kita manusia yang sudah dirusak dosa ini. Ada beberapa manusia yang rusak sehingga dia tidak mencintai gennya secara semestinya, seperti terjadi kasus pembunuhan atau penjualan anak. Tetapi kita menganggap mereka “rusak” (atau kata kerennya “abnormal”) karena kita tahu yang “tidak rusak” (atau “normal”) mencintai anak mereka, karena kita software di otak kita memang dirancang demikian. Kenyataan tersebut membuat pernyataan bahwa “ibu tiri lebih kejam dari ibu kandung” sebagai pernyataan yang bukan mitos belaka. Karena ibu tiri kemungkinan akan punya cinta yang lebih sedikit kepada anak tirinya dibandingkan dengan anak kandungnya atau suaminya. Bagi ibu tiri yang tidak demikian, kami bisa asumsikan bahwa software otaknya “rusak” J.


Bagaimana dengan cinta? Tentu saja cinta adalah perasaan yang paling membutakan, yang sekali lagi didorong oleh GEN. Ya! Keinginan kita untuk meneruskan gen kita. Nah, kedua jenis hubungan ini memang sudah diprogram dalam otak kita. Sudah menjadi kodrat bagi kita untuk mengasihi saudara kita dan nantinya akan jatuh cinta dan meneruskan keturunan.


Sehingga demikian, memang persahabatan adalah hubungan yang paling tidak biologis, hubungan yang paling tidak “dipaksakan” oleh alam, atau dengan kata lain, lebih murni dari pada yang lain. Tetapi sebagaimana “yang murni” tersebut sangat susah dicari, begitu pula bentuk hubungan kasih yang paling murni ini; persahabatan. Anda ketika lahir, diprogram untuk mencintai saudara dan, suatu hari nanti, istri anda. Tetapi anda tidak diprogram untuk menyukai sahabat anda. Sebagaimana kata Jacques Dellile : “Takdir memilih kerabatmu, Engkau memilih sahabatmu”. Jika mengasihi kekasih atau saudara adalah hasil proses alam, maka mengasihi sahabat adalah hasil suatu komitmen murni, tes yang lama yang akan membuktikan kesungguhan dan kesiapan anda untuk dikasihi dan mengasihi, untuk menghargai dan dihargai, dan untuk menghormati dan dihormati.


Banyak orang menyatakan bahwa hubungan yang paling membutuhkan kesetiaan adalah perkawinan, tetapi ini adalah pernyataan yang luar biasa salah. Persahabatan lebih membutuhkan kesetiaan dari pada perkawinan. Perkawinan diikat oleh cinta, dan kita semua tahu bahwa cinta itu buta. Kita semua yang pernah jatuh cinta, jujur, berapa kali kita berusaha membuat “excuse” untuk membenarkan kesalahan orang yang kita cintai, padahal nyata-nyata dia salah. Kenapa demikian? Karena cinta buta, membutakan nurani kita akan kebenaran. Tetapi tidak demikian dengan persahabatan. Sebagaimana dengan bijak Bussy-Rabutin pernah menulis “Cinta dari kebutaan, Persahabatan dari pengetahuan.” Persahabatan tidak pernah mengenal kata maaf dua kali. Sekali anda salah, maka percayalah, persahabatan tersebut hancur 100%. Persahabatan tidak punya excuse, ketika anda salah, anda gagal, inilah ujian kesetiaan yang sebenarnya, ujian yang pasti gagal dilalui oleh banyak orang yang menganggap enteng kesetiaan persahabatan yang murni. Orang yang menganggap seorang teman tidak lebih dari seorang yang kebetulan diruang dan waktu yang sama dengannya. Saudara Jerome, pasti anda ingat suatu hari kita sedang makan dining. Sudah tradisi kita semua bahwa tidak ada yang meninggalkan meja makan sebelum semua selesai makan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak dan masuk akal. Tetapi ada satu teman kita yang tidak mengikuti tradisi ini, yang datang dan pergi sesukanya dan tidak menghormati perkumpulan Hall 2 B pelogat tanah Papua. Dan anda ingat ketika sang “you know who” (bukan voldemort) tersebut pergi meninggalkan meja, I said; ”pace sana punya banya kenalan tapi susah cari sahabat. Orang yang hargai sesungguhnya sama dia pasti Cuma dia pung maitua. Voltaire pernah berkata; “ The wicked can have only accomplices, the voluptuous have companions in debauchery, self-seekers have associates, the politic assemble the factions, the typical idler has connections, princes have courtiers. Only the virtuous have friends.” (Dictionnaire philosophique, “Friendship”)


Saya rasa yang Paulus maksud dengan Kasih yang dia jelaskan dalam 1 Korintus 13 adalah kasih universal kemanusiaan, tetapi ijinkan saya menyatakan bahwa kasih hubungan persahabatan adalah yang paling mendekati deskripsi Paulus akan kasih. Bacalah yang ditulis Paulus, dan bandingkan dengan persahabatan. Ya, persahabatan itu sabar (orang nda sabar disisi sabel), murah hati (nda ada orang yang mo ba teman deng orang kikir), tidak memegahkan diri, tidak sombong (sapa mo batamang deng orang sombong), tidak melakukan yang tidak sopan (nga mau ba teman deng orang yang ludah nga pe muka?), bersuka cita karena kebenaran, dan yang utama persahabatan tidak Cemburu (ayat ke-4). Ketika anda mencintai seseorang (pacar atau istri anda), maka anda punya klaim kepemilikan pribadi atas diri pasangan anda. Orang ketiga adalah bencana, orang keempat adalah malapetaka dan orang kelima adalah kiamat. Dalam cinta eros, anda harus egois dalam mempertahankan hak diri anda atas satu orang tersebut (dan kami menghargai egoism anda). Anda akan cemburu (HARUS, kalau anda benar-benar cinta) ketika ada orang lain diantara hubungan asmara anda.


Tetapi tidak demikiannya dengan persahabatan. Sebagaimana yang dinyatakan Lewis, Persahabatan menjadi lebih semarak ketika dua menjadi tiga, empat dan seterusnya. Persahabatan akan berlipat ganda sebagaimana jumlah anggotanya bertambah. Persahabatan tidak cinta diri, karena orang yang terlalu cinta diri tidak mungkin punya sahabat. Dia adalah hubungan yang paling ber-jejaring, tetapi berkata sahabat lebih dari sekedar “sekutu”. Sekutu sebagaimana sahabat adalah hasil dari kesamaan visi, keinginan atau kepentingan. Tetapi persahabatan lebih dari sekedar kesamaan visi dan kepentingan tersebut, dia jauh lebih murni, dimana dua atau lebih karakter diuji dan akhirnya bersatu seperti kata seseorang; “persahabatan adalah satu pikiran dalam dua tubuh.” Tetapi dua akan lebih semarak ketika yang ketiga datang, yang keempat, kelima dan seterusnya. Seperti kata Paulus; dua lebih baik dari pada satu, dan tiga lebih baik dari pada dua. (tetapi ini bukan pembenaran bagi orang-orang yang punya 700 lebih teman di friendster. Ng cari teman or pelanggan MLM?)


Begitu mulianya persahabatan, sehingga pada banyak kasus, yang terbaik dari diri manusia datang dari persahabatan. Sebagaimana yang ditulis di National Geographic edisi “Cinta” katanya; “kalau kita terus-terusan jatuh cinta, maka penemuan terbesar manusia hanyalah coklat yang lebih manis, atau mawar yang lebih cantik.” Kekristenan dimulai oleh para sahabat yang berkumpul dan mulai menyebarkan kebenaran yang mereka percayai, “Royal Society adalah sebenarnya sekumpulan sahabat yang berkumpul untuk membicarakan hal yang mereka (dan sedikit orang lain) gandrungi” (Lewis), Islam disebarluaskan bukan oleh keluarga dan kerabat, tetapi oleh para SAHABAT Nabi. Memang banyak penemuan adalah hasil cinta diri, tetapi disadari atau tidak adalah by-product dari persahabatan. Kita berutang pada cinta kasih asmara dan kasih kekeluargaan atas jasa mereka untuk memastikan species kita tetap bertahan, tetapi kita berutang pada kasih persahabatan atas kepingan besar peradaban umat manusia.


Nah, this is the worst part. George Eliot menyatakan bahwa “Persahabatandimulai dengan rasa suka dan rasa terima kasih. Akar yang gampang untuk dicabut.” Seperti yang saya kutip dari Lewis diatas bahwa persahabatan adalah hubungan yang paling tidak biologis, sehingga paling gampang hilang. Saya akui hal tersebut. SMS dari teman-teman UNKLAB saya berkurang dari hari ke hari, sebagaimana juga SMS yang saya kirim kepada mereka. Sebagaimana saudara Jerome katakan Friendship is not forever but for-over. Tetapi saya rasa tidak demikian. Sekarang kita bisa memuja cinta eros, till death do us part, love forever, my love will never die, itulah kata-kata lagu cinta. Satu-satunya lagu persahabatan hanyalah “kepompong” (bukan kedondong, licing diluar baduri didalam). Tetapi saya percaya bahwa suatu saat kita akan kembali bertemu untuk memulai persahabatan yang akan kekal selama-lamanya. Sebagaimana kata Voltaire yang saya kutip diatas (walaupun dia Atheis), “only the virtuous have friends.” (Hanya orang baik yang punya sahabat). Dan kita tahu, hanya orang beriman dengan perbuatan baik yang masuk ke kerajaan Allah. Ketika kita masuk ke sorga (kalau saya sampai ke sana, Amin!), kita tidak datang sebagai suami-istri, atau sebagai ayah dan anak, atau sebagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Kita datang sebagai para sahabat. Kita lewati the pearly gate sebagai orang-orang yang telah lolos ujian karakter, dimana ujian tersebut menguji apakah kita adalah anak yang baik, kita adalah suami atau istri yang baik, ayah atau ibu yang baik. Tetapi ujian tersebut adalah ujian yang mudah. Mudah menjadi ayah yang baik untuk anakmu, atau mencintai istrimu. Ujian yang sebenarnya adalah, apakah engkau seorang yang baik seutuhnya, apakah engkau seorang yang punya sahabat? Apakah engkau seorang yang baik sehingga engkau punya sahabat? Ada suami yang baik, ada suami yang jelek. Begitu pula ada anak yang baik dan anak yang buruk. tetapi tidak mungkin ada sahabat yang buruk. Karena yang buruk tidak mungkin punya sahabat dan yang tidak punya sahabat mungkin tidak masuk sorga. Seperti kata Yesus, tidak ada kasih yang lebih mulia dari pada seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabatnya. Mudah menyerahkan nyawa untuk istri kita, untuk anak kita, untuk ayah atau ibu kita. Tetapi adalah hal yang sulit menyerahkan nyawa bagi sahabat kita. Tetapi disitulah letak kemurnian persahabatan dalam menguji sifat kita. Hubungan yang paling menguji karakter adalah kasih persahabatan.


Suatu hari nanti kita akan lewati gerbang surga, bukan sebagai pasangan kekasih, bukan sebagai keluarga-keluarga (seperti gambar di buku-buku saksi Jehovah), tetapi kita berjalan sebagai kumpulan sahabat-sahabat. Tentu saja Allah akan menyatukan kita semua, bind us together with the grandeur kind of love, tetapi jenis cinta kasih yang bagaimana? Asmara? Sulit untuk membayangkan, tetapi yang jelas ketika kita hidup didunia, tidak ada kasih yang mendekati kemurnian kasih sorgawi itu, melebihi kasih persahabatan. Ralph Waldo Emerson menulis “Seorang Sahabat bisa dianggap sebagai maha-karya Alam” (Essay on Frienship). Tetapi menurut saya, sahabat adalah hasil karakter kebaikan ditambah dengan keajaiban kasih yang diberikan Allah, karena Allah itu kasih. Untuk semua sahabatku sekarang, terima kasih untuk segalanya. Untuk kawan lama yang mungkin pernah saya kecewakan, maaf untuk segalanya. Semoga kita bisa menjadi sahabat. Untuk semua sahabat-sahabatku diseluruh pelosok Nusantara, makan diluar (ci ati, palu butung dll), nae mikro, bayar PS2, dsb, may come with the price tag and cost me (sometimes cost you) something, but you and those moments are (let me say it from the bottom of my heart): PRICELESS (terinspirasi iklan Mastercard hehehehe)… Jika suatu saat nanti kita capai sesuatu yang luar biasa (kalau memang kita bisa capai, hix.. hix..) atau kita kaweng, atau pecahkan rekor dunia, ketahuilah bahwa pencapaian duniawi terbesar saya adalah ketika saya merebut hatimu dan membuatmu yakin dalam hatimu (tanpa perlu engkau ungkapkan) bahwa aku sahabatmu. Persahabatan memang tidak seperti cinta, ketika dua orang dimabuk cinta, mereka akan ungkapkan cinta itu sesering waktu dan bibir mereka mengijinkan, tetapi tidak demikian dengan persahabatan. Engkau tidak perlu katakan bahwa aku sahabatmu, tetapi itu terpancar dari apa yang kita lakukan setiap hari. (Love) Eros may naked body, friendship naked personality –C. S. Lewis-


From quiet homes and first beginning,

Out to the undiscovered ends,

There’s nothing worth the wear of winning,

But laughter and the love of friends.


Hilaire Belloc (1870 - 1953)


French-born British writer.


Verses, “Dedicatory Ode”

No comments: