Wednesday, December 12, 2012

Aku Cinta Indonesia Vs. Aku Cinta Produk Indonesia



“Aku Cinta Produk Indonesia”. Anda mendengar slogan ini di mana-mana. Pengusaha, perusahaan nasional, BUMN, pejabat pemerintah, semuanya mendengung-dengungkan hal ini. Tetapi disadari atau tidak, “Aku Cinta Produk Indonesia” (selanjutnya disebut ACPI) adalah sebuah wujud kesalahan berpikir ekonomi yang jika kita biarkan terus-menerus malah akan memperburuk ekonomi nasional dan bukannya memberikan keuntungan bagi bangsa ini malah kerugian. Sentimen ACPI tercipta dari empat kesalahan berpikir. Pertama, bahwa uang adalah kekayaan, atau seluruh kekayaan hanya diukur dari uang. Artinya, kita berpikir bahwa jika Indonesia mengimpor sepuluh ribu unit sepeda motor dari Jepang seharga sepuluh juta dollar artinya Indonesia baru saja kehilangan sepuluh juta dollar. Yang kita tidak perhitungkan adalah sepeda motor yang baru saja menjadi kekayaan baru bangsa Indonesia. Keuntungan perdagangan ini ditambah juga dengan selisih biaya yang bisa dihemat karena kita membeli sepeda motor ini dari jepang dan bukannya memproduksi sendiri. Bapak ilmu ekonomi modern, Adam Smith dengan jelas menunjukan kesalahan ini dengan menjelaskan bahwa “kekayaan sebuah bangsa” bukanlah uang tetapi “hasil produksi bangsa tersebut, ditambah dengan apa yang bisa mereka bisa beli dengan hasil produksi tersebut.” Uang hanyalah perantara, yang utama adalah apa yang bisa diproduksi oleh bangsa Indonesia dengan baik (tekstil, bahan baku, dll) ditambah dengan apa yang bisa mereka tukar dengan hasil produksi mereka (sepeda motor, elektronik, dll). Orang bisa menganggap bahwa jika kita membeli produk bangsa sendiri, uang itu bisa tinggal disini dan membuat bangsa sendiri kaya. Yang kita tidak perhitungkan adalah jika kita membeli di sini, maka barang yang dari luar yang bisa mengembangkan hidup kita tidak bisa masuk. Barang yang kita beli dari “dalam” harganya jauh lebih mahal, sehingga kita juga yang dirugikan. Apel malang harganya Rp. 10.000 dan apel Cina harganya Rp. 5000 dengan nutrisi yang jauh lebih tinggi. Ketika kita larang impor apel cina, maka kita telah kehilangan kualitas lebih yang ditawarkan oleh apel cina dan Rp. 5000 selisih harga yang harus kita bayarkan untuk apel malang. Rp. 5000 ini sebenarnya bisa kita gunakan untuk hal lain yang memperkaya hidup kita. Jadi secara garis besarnya, bangsa Indonesia menjadi lebih miskin Rp. 5000 ditambah kehilangan nutrisi lebih yang ditawarkan apel cina.

Kesalahan kedua adalah bahwa perdagangan antar negara adalah “zero-sum game” atau “permainan yang jika yang satu untung, maka yang satu pasti rugi”. Contoh zero-sum game adalah berjudi. Jika pemain menang seratus rupiah, maka Bandar pasti rugi seratus rupiah, dan sebaliknya. Menyamakan perdagangan dengan zero-sum game adalah sebuah ketololan ekonomi. Perdagangan tercipta bukan karena hanya salah satu pihak dalam perdagangan diuntungkan, justru sebaliknya, kedua belah pihak harus merasa diuntungkan sehingga terciptalah perdagangan. Keputusan untuk berdagang dengan bangsa lain juga demikian, kita mengimport justru karena kita merasa bahwa kita akan diuntungkan dari transaksi ini, karena kalau tidak, kita tidak akan mengimport.

Kesalahan ekonomi ketiga yang membuat ACPI begitu diterima adalah bahwa Bangsa Indonesia bisa melakukan segalanya dan jika dikembangkan, maka dua ratus lima puluh juta orang Indonesia bisa menciptakan segala hal yang kita perlukan mulai dari hasil pertanian, mobil, elektronik, sampai benang dan jarum. Padahal perkembangan ekonomi tercipta karena pembagian kerja antar individu, dan pembagian kerja antar bangsa. Hal ini ditunjukan dengan jelas di mata pelajaran ekonomi kelas 2 SMA, tentang teori keunggulan komparatif-nya David Ricardo. Secara sederhana Ricardo menjelaskan tentang dua orang yang akan lebih diuntungkan jika mereka tidak mengerjakan segala hal, tetapi mengkhusukan pada bidang yang paling mereka kuasai, dan nantinya menukarkan hasil kerja mereka, dan keduanya akan lebih diuntungkan. Seorang nelayan bisa memproduksi 3 ekor ikan dan 2 kilogram beras perhari. Seorang petani bisa memproduksi 2 ekor ikan dan 5 kilogram beras perhari. Jika sang nelayan hanya memancing seharian, dia bisa memproduksi 7 ikan, dan jika sang petani jika memproduksi beras saja, tanpa memancing, bisa memproduksi 10 kg beras perhari. Jika mereka hanya mengkhusukan pada bidang yang paling baik mereka kerjakan dan nantinya menukarkan (memperdagangkan) hasil kerja mereka, maka petani dan nelayan akan sama-sama diuntungkan. Tidak perlu IQ 140 untuk memikirkan hal sederhana ini. Dan jika hal ini terjadi pada level individu, hal ini juga yang terjadi pada level antar bangsa. Setiap negara dianugerahi Tuhan dengan kondisi geografis dan sosiologis (sejarah dan budaya) yang berbeda, sebagaimana individu dianugerahi talenta yang berbeda-beda. Ada bangsa yang unggul karena alamnya subur, ada yang tidak. Ada bangsa yang alamnya punya begitu banyak barang tambang, ada yang tidak. Ada bangsa yang berdasarkan sejarahnya unggul dalam teknologi, ada yang unggul dalam kesenian, ada yang unggul dalam etos kerja, dll., dan perbedaan ini yang harus kita syukuri karena itu memungkingkan terciptanya perdagangan antar satu bangsa (atau individu) dengan bangsa yang lainnya, yang pada akhirnya menciptakan keuntungan bagi kita semua. Kenyataan bahwa bumi saat ini mampu menampung 7.000.000.000 umat manusia adalah karena perdagangan yang kita lakukan dan merdekakan. Adalah hal bodoh jika kita anggap perdagangan (antar bangsa maupun individu) ini sebagai ancaman, dengan menggembar-gemborkan sentiment ACPI.

Saya bersyukur tidak semua bangsa punya sentiment “Aku Cinta Produk (negara tertentu)”. Bayangkan jika semua negara hanya mencintai produknya masing-masing, bayangkan jika Indonesia melarang impor dan hanya mendorong ekspor, dan setelah itu Malaysia juga melakukan hal yang sama, lalu China mengikuti, lalu Jepang, lalu AS, lalu Thailand, lalu semua negara didunia merasa bahwa mereka harus hanya mencintai produk negara masing-masing, apa yang terjadi, perdagangan dunia akan kolaps, dan setelah itu peradaban dunia akan kolaps, setelah itu hasil kerja kita tidak akan mampu lagi menopang keberlangsungan hidup 7.000.000.000 miliar umat manusia dan mungkin akan terjadi malapetaka ekonomi luar biasa dan miliaran manusia akan mati. Oh, Terima Kasih Tuhan karena tidak semua orang punya cinta buta terhadap sentiment ekonomi yang salah .

Kesalahan keempat adalah bahwa neraca perdagangan yang negatif itu buruk. Neraca perdagangan pribadi saya dengan Manado Town Square sangat negatif. Saya membelanjakan begitu banyak hal di Manado Town Square, tetapi apa itu berarti bahwa saya lebih miskin? Tidak. Justru neraca pribadi saya yang timpang dengan Manado Town Square menunjukan bahwa saya punya kemampuan membeli. Neraca perdagangan saya dengan tempat saya bekerjaJ sangat positif. Apa itu menunjukan bahwa tempat saya bekerja menjadi lebih miskin? Tentu saja tidak. Sentimen yang ingin menciptakan agar neraca perdagangan Indonesia harus positif dengan bangsa lain adalah hal yang salah, karena setiap bangsa yang membeli karena punya pendapatan.

Aku cinta Indonesia adalah hal yang jauh berbeda dengan Aku Cinta Produk Indonesia. Aku cinta Indonesia oleh karena itu kita ingin agar bangsa ini lebih sejahtera dan kesejahteraan tidak akan tercipta jika aku harus hanya membeli produk dalam negeri. Aku cinta Indonesia, oleh karena itu aku ingin agar orang Indonesia terpenuhi gizinya dengan mampu membeli buah import yang bergizi dengan murah. Aku cinta Indonesia oleh karena itu aku ingin agar petani kita tertantang untuk berinovasi dan menciptakan produk yang memang lebih baik dari pada bangsa lain tanpa harus dilindungi oleh pelarangan impor yang malah merugikan lebih banyak orang. Aku cinta Indonesia, oleh karena itu aku ingin agar rakyat Indonesia bisa menikmati kenaikan taraf hidup dengan harga semurah-murahnya, dan bahkan jika itu berarti harus mengeksport, dan mengimport. Seperti halnya taraf hidup saya naik setelah saya bekerja, dan membeli.

Property Ownership and Human Rights Violation (My Essay for IAF Accademy, Gummersbach)



My country has been experiencing many human rights violation, and the most recent is the tension about some religious group trying to deny the rights of other groups to exercise their constitutional freedom to worship and embrace any religion. But I decide to post this story which is closer to my hometown. In this area ( http://goo.gl/maps/erI6f ) people has operated their "tambang emas rakyat" or people's gold mine for years, but it is hard to get permission to professionally and legally own and exploit the land. So for many years people there has been operating under this quasi-legal system, without full recognition of their legality of ownership by government. This year, government decided to gave permit to a corporation, PT. Sumber Energi Jaya, backed by investors from China (and rumor has it that it was partially owned by one high local official) for exploitation of the gold deposit on that area. People then stood up to demonstrate against this plan and it was turned violent. Police used active bullet to stop the demonstrator. My friend is the leader of the demonstrator and the corporation sponsored crowd orchestrated their own demonstration in support of this “investor” and they burn his picture (http://www.mongabay.co.id/2012/05/27/tolak-tambang-emas-minahasa-dua-tertembak/ )  (second picture, my friend’s name is Iswadi Sual, as you can see his picture is being burned). At the end of May this Year, the minor conflict between people against police took place (again) and police open fire, and one the bullet misfired and hit two on their leg and a peasant; Franky Aringking, who just went back home with his cow, and hit him on his head. He was then rushed to the hospital and police official admitted him to hospital and guarantee for a surgery. His life was saved but now the left part of his body is permanently paralyzed and cannot be moved. I visited him yesterday (August 13, 2012) and shocked with the information that he can’t go home yet since police hasn’t paid his hospital bill, and he is waiting for it. Sadly no media report about it. I attached his picture, and wonder if it is a great idea to do a charity program to raise money to help him. You can still see the scars of the bullet passing through the right part of his head caused his left body can’t be moved.

This kind of event is not the first time in Indonesia, and certainly will not be the last if my country doesn’t change the direction, you can read in this link (http://www.npr.org/2011/11/16/142346962/in-indonesia-anger-against-mining-giant-grows and http://325.nostate.net/?p=3773 you can google to find more terrifying stories ). Sadly many people blame that this is the result of capitalism, and ask everyone to return the holy creed of our constitution article 33, verse 3: “The land, the waters and the natural resources within shall be under the powers of the State and shall be used to the greatest benefit of the people.” My friend, Iswadi, even take more radical  step and join the leftist student movement and turn more radical in his socialistic view. I have been debating him ever since. What they don’t realize that this is actually the direct result of that particular sentence in our constitution, that government should have the right over property of the people. We give them the power to regulate economy so they can look after us, while blindly assume that they have to be for the people. Yet the history has thought us again and again, that when we give government power to overseen something, it will give them more temptation to corrupt. The only solution is we take that power back and return the power to the people by granting them their property right for the land they deserve, for the land they have taken care for years. Without this, Franky Aringking would never be the last victims. I am looking for fund to make a documentary about this to shed the light of this problem to Indonesian public and to show them why my country has been in the wrong direction for so many time and what we can do to change it.

Upah Minimum dan Kesejahteraan



Tergantung dari cara pandang kita tentang apa itu “sejahtera” tetapi jika anda bayangkan sejahtera berarti punya mobil dan rumah yang indah, maka saya tumbuh dari keluarga yang tidak terlalu sejahtera dan memimpikan suatu hari menjadi sejahtera. Sejahtera adalah keinginan kita semua dan Tuhan yang Maha Baik memberikan bagi kita masing-masing talenta untuk mencapainya. Salah satu pejuang kesejahteraan yang manjadi topik hangat akhir-akhir ini adalah demo buruh yang menuntut naiknya UMR dan dihapuskannya outsourcing. Tetapi hari ini saya ingin menantang para pembaca untuk berpikir sejenak dan melihat apakah perjuangan ini adalah usaha menghasilkan kesejahteraan, atau malah menghancurkannya?

Untuk menjawab  pertanyaab ini, mari kita melihat lebih jauh kedepan dan bertanya; apakah kenaikan UMR lebih dari 60% di propinsi ini yang mencapai angka Rp. 2 juta akan menghasilkan kesejahteraan? Dari apa yang saya pelajari; sama sekali tidak. Perlu kita sadari bersama bahwa keahlian yang kita tawarkan sebagai pekerja memiliki sifat yang sama dengan komoditas. Ketika harga keahlian kita naik, maka reaksi yang diambil oleh pembeli keahlian kita (yaitu perusahaan) adalah mengurangi permintaan. Inilah hasil dari hukum alamiah permintaan dan penawaran. UMR adalah harga terendah yang diperbolehkan secara hukum oleh pengusaha untuk membeli keahlian kita. Hal terburuk akan dialami oleh para pekerja yang memiliki keahlian dibawah harga ini, yaitu para pekerja tanpa keahlian cukup, dan para anak muda yang baru lulus dari SMA. Keahlian yang mereka miliki tidak mencukupi untuk dirasionalisasi dibayar dengan harga Rp. 2 juta rupiah. Membayar dengan harga di bawah jumlah tersebut adalah perbuatan melanggar hukum.  Begitu pula dengan pekerja lain yang punya kemampuan di bawah jumlah UMR tersebut. Yang perusahaan bisa lakukan adalah memutuskan hubungan kerja dengan mereka. Hasil akhirnya adalah meningkatnya jumlah pengangguran, dan berkurangnya daya saing perusahaan karena harga yang lebih tinggi dan iklim investasi yang lebih buruk karena biaya investasi awal yang lebih tinggi untuk memenuhi biaya UMR.

Memang kita bisa katakan bahwa pengusaha punya banyak untung yang seharusnya dibagi menjadi lebih merata bagi semua karyawan. Tetapi menjadi pengusaha bukan hanya membutuhkan keahlian lebih, tetapi juga menyita waktu yang lebih banyak untuk bekerja, dan terutama, menanggung resiko besar yang tidak ditanggung oleh pencari kerja, yaitu resiko kebangkrutan dan resiko kehilangan investasi besar yang pertama kali mereka tanamkan untuk memulai usaha. Kalau memang kedengarannya masih tidak adil, bayangkan jika naiknya UMR sebesar ini dan dampaknya terhadap iklim investasi di propinsi ini dan dampaknya pada kemajuan ekonomi secara keseluruhan. Dan dampaknya juga bagi penyerapan tenaga kerja. Hukum sederhana ekonomi: naiknya harga menyebabkan menurunnya permintaan. Demikian juga yang akan terjadi dengan permintaan tenaga kerja ketika naiknya UMR secara tidak wajar; terciptanya lebih banyak pengangguran.

Bagi saya, secara moral UMR seharusnya adalah 0 rupiah. Karena Upah adalah hasil penawaran antara dua belah pihak lewat persetujuan yang damai. Setiap usaha pemaksaan adalah kegiatan tidak bermoral dan melanggar hak masing-masing pihak, walaupun itu didukung oleh suatu peraturan hukum yang tertulis. Mungkin kita menganggap bahwa jika tidak ada UMR maka pekerja akan dieksploitasi secara tidak adil. Tetapi lihatlah beberapa Negara yang tidak pernah memberlakukan UMR seperti Jerman, Singapura, Hong Kong (sampai tahun 20100 dan Italia. Atau, pernahkah anda dengar bahwa Negara-negara Skandinavia adalah tempat dengan penduduk paling bahagia di dunia, tetapi tidak ada satupun Negara Skandinavia (Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Denmark) yang memberlakukan UMR. Jadi tampaknya UMR bukanlah alasan kesejahteraan atau kebahagiaan.

Lalu apa yang bisa membuat pekerja lebih bahagia dan sejahtera? Jawabannya adalah perkembangan ekonomi. Ketika ekonomi berkembang, demikian pula dengan penyerapan tenaga kerja. Ketika ekonomi bertumbuh, lebih banyak orang akan membuka usaha, dan pekerja tidak perlu turun ke jalan untuk berunjuk rasa menuntut ini dan itu, karena ketika jumlah perusahaan bertambah, demikian juga jumlah perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja, dan mereka akan bersaing satu dengan yang lain untuk mendapatkan pekerja dengan cara memberikan gaji dan fasilitas yang lebih baik bagi pekerja. Tetapi ini semua tidak bisa terjadi tanpa ada kebebasan ekonomi. Ekonomi tidak mungkin tumbuh ketika perusahaan dan pengusaha dibebankan dengan banyaknya pungli dan peraturan, termasuk peraturan yang mengharuskan perusahaan untuk memenuhi standar minimum untuk membayar pekerjanya. Dan UMR yang tidak masuk akal bukan hanya merugikan pengusaha, tetapi masyarakat secara keseluruhan. Bayangkan seorang anak muda dengan segala kemampuannya dan potensi yang dia miliki. Dia bisa saja menjadi seorang yang sukses di masa depan walaupun dia tidak punya pendidikan yang cukup, tetapi Perusahaan tidak bisa mempekerjakannya karena UMR yang ada tidak memungkinkan perusahaan untuk secara akal sehat maupun hitung-hitungan usaha untuk mempekerjakannya. Sehingga UMR secara tidak langsung mematikan banyak kesempatan.

Tetapi kenapa begitu banyak orang menginginkan dan menyetujui naiknya UMR? Jawabnya karena cara pandang kita yang terlalu pendek dalam melihat masa depan. Bangsa dan rakyat yang bijak adalah yang mampu melihat jauh kedepan, tetapi kita yang kurang bijak hanya mampu melihat hasil sempit dan singkat. Kita terlalu peduli tentang apa yang “saya” dapatkan “bulan ini saja”. Kita tidak memperhatikan apa yang “rakyat” ini bisa capai di “masa depan” jika kita mau berusaha dan bekerja lebih baik dari hari-kehari. Kita terjebak dalam pola pikir salah yang dalam ekonomi disebut sebagai “economic myopia” (rabun jauh ekonomi) yaitu hanya memikirkan jangka pendek tetapi gagal melihat masa depan. Kita seperti anak manja yang mau kesenangan masa sekarang tetapi lupa bahwa kesenangan jangka pendek menimbulkan kesengsaraan jangka panjang, dan kesusahan jangka pendek bisa menimbulkan kesejahteraan jangka panjang. Seperti pemabuk yang lupa bahwa minum-minum bisa menghilangkan stress jangka pendek tetapi menimbulkan penyakit jangka panjang, dan bahwa siswa yang belajar keras selama satu tahun bisa berarti kepastian masa depan yang cerah sampai mati.

Saya berharap bahwa kita semua bisa berpikir jernih tentang masalah UMR dan jangan biarkan kepentingan jangka pendek (entah itu kepentingan rokok bulan ini atau kepentingan politik) menghancurkan kepentingan masa depan yang lebih cerah. Buktinya; ketika saya sedang menulis artikel ini, 6 perusahaan di Jawa sudah menutup pabriknya karena aksi buruh menuntut kenaikan UMR yang berujung anarkis sehingga perusahaan merasa takut berinvestasi lagi dan menutup atau memindahkan pabriknya. Siapa yang dirugikan akibat rabun jauh ekonomi ini? Begitu banyak pekerja yang mau bekerja dengan baik, anggota keluarga mereka, dan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Wednesday, November 28, 2012

Oligarki dan Kekayaan



Salah satu alasan utama saya mendukung aliran ekonomi kapitalis adalah karena sistem ini memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja untuk menjadi yang terbaik dan mengembangkan dirinya. Tetapi tuduhan nyasar sering kali dialamatkan kepada sistem ini yang katanya hanya menciptakan yang kaya semakin kaya. Tetapi mari kita lihat dari daftar para pengubah 7 orang besar dunia bisnis dan orang terkaya didunia dibawah ini:
1. Bill Gates
2. Warren Buffet
3. Carlos Helu
4. Steve Jobs
5. Amancio Ortega
6. Larry Ellison
7. Li Kashing
Ada satu hal yang mirip dari mereka, semuanya bukan anak jutawan dan naik kepentas bisnis dunia dengan kerja keras. Mereka adalah anak guru, pekerja stasiun kereta api, pengacara, dan bahkan dua diantaranya adalah anak diluar nikah. Mereka memulai usaha dengan awal yang sangat sederhana. Dari garasi, kantor rumahan, dan lainya. 

Nah, sekarang bandingkan dengan daftar 6 orang besar bisnis negeri ini:
1. R. Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono (anak dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum)
2. Susilo Wonowidjojo (anak dari Surya Wonowidjojo, pendiri Gudang Garam)
3. Anthoni Salim (Anaknya Liem Sioe Liong, ngga perlu dipertanyakan lagi)
4. Putera Sampoerna (generasi ke tiga keluarga Sampoerna)
5. Aburizal Bakrie (dari Keluarga saudagar Bakrie)
6. Jusuf Kalla (Kalla group)
Apa kesamaan mereka? Tentu saja mereka semua pekerja keras dan orang-orang ulet. Tetapi satu hal yang pasti adalah mereka penerus dinasti perusahaan keluarga. Tentu saja ada nama lain seperti Sukanto Tanoto, Eka Widjaja, dan Peter Sondakh yang adalah jutawan generasi pertama. Tetapi kebanyakan dari mereka sudah sangat tua dan bisa digolongkan sebagai yang tidak aktif dan menunggu mewariskan ke generasi kedua, dan kebanyakan usaha mereka adalah yang bergerak di industri primer, yang berhubungan langsung dengan sumber daya alam seperti kelapa sawit, batu bara, biji besi, dan bubur kertas. Kita tidak punya banyak orang super kaya yang memulai dari nol, dan membangun usaha dari awal serta menciptakan terobosan baru dalam dunia usaha.

Yang ingin saya sampaikan dari blog ini adalah bahwa fakta diatas sangat mencerminkan apa yang dilaporkan oleh Harvard Kennedy School of Government, dalam laporannya yang diliris pada Semptember, 2010. Bahwa Indonesia punya begitu banyak peraturan-peraturan pemerintah yang membuat industri kecil yang sebenarnya bisa kreatif dan lebih lincah bersaing, menjadi mandek dan tidak bisa berkembang. Sehingga hanya yang sudah diataslah yang bisa mendominasi permainan bisnis. 

Yang harus dilakukan pemerintah adalah membatasi jumlah regulasi yang menyusahkan UKM untuk menjadi besar, dalam hal ini, liberalisasi UKM sehingga mereka bisa bernafas dan berkembang. Dalam hal ini juga, hal diatas mencerminkan hasil laporan tersebut bahwa ekonomi Indonesia kebanyakan berpusat pada eksploitasi sumber daya alam, dan bahkan kita adalah salah satu dari sedikit negara yang lebih banyak mengekspor biji metal, dari pada metal itu sendiri. Lalu dimana Laksmi Mithal-nya Indonesia? Kita akan sulit menemukannya selama negara ini masih menerapkan sistem usaha biaya tinggi yang menyulitkan seseorang untuk memulai dari bawah dan mengembangkan usahanya menjadi lebih besar.

Dan apakah dari fakta-fakta diatas kita bisa simpulkan Indonesia negara kapitalis? Sama sekali tidak. Kapitalisme mengharuskan pemerintah berhenti membuat peraturan yang tidak sewenang-wenang bagi warganya, termasuk bagi pengusaha. Sehingga kita sama sekali bukan kapitalis.

Kapitalisme akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik sehingga pendapatan akan meningkat bahkan sampai pada kelompok yang paling bawah, sebagaimana yang kita bisa lihat di banyak negara yang telah mempraktekannya.

Sunday, October 21, 2012

Andai Aku Menjadi Ketua KPK


Koalisi terbesar KPK dalam memberantas korupsi saat ini adalah masyarakat sipil yang terpisah dari institusi Negara, yang bergerak secara masal, tanpa ada organisasi terpusat dan muncul secara spontan, membela KPK ketika mereka menghadapi masa sulit. Seandainya saya menjadi ketua KPK, tentu proses penegakan hukum akan terus dijalankan dan dipermantap, tetapi yang utama adalah bagaimana memperbesar koalisi KPK dengan masyarakat. Dan sebagai ketua KPK saya akan berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat akan isu korupsi dan bahayanya, sehingga koalisi ini, menjadi semakin besar, kuat, dan menjadi lebih mumpuni dalam menggerakan opini publik, serta mengontrol tindakan para pembuat keputusan. Penggerak utama massa adalah media budaya, dan ini bisa apa saja. Bisa media massa, music, gaya busana, bahkan Meme, dan semuanya ini harus bisa digunakan untuk membangun budaya baru Indonesia: Budaya Anti Korupsi. 

Jika saya ketua KPK, saya akan undang penulis teenlit, novel, dan sineas kita untuk mau menggarap sebuah karya tentang kisah heroisme penyidik KPK.  Ketika serial “The X-Files” meledak AS, souvenir FBI berupa T-shirt, topi, dan jacket, laris manis, dan menjadi trend dan banyak anak muda ingin menjadi penyidik FBI. Bayangkan jika kita punya lebih banyak souvenir seperti ini, yang berisi pesan-pesan anti korupsi yang bisa saja berubah menjadi meme, apa ngga ketar-ketir koruptor se Indonesia jika dia mungkin melihat bahkan anaknya sendiri pake kaos bertuliskan “Penyidik KPK”.