Showing posts with label Apologetika. Show all posts
Showing posts with label Apologetika. Show all posts

Friday, August 26, 2011

Dosa II (Jawaban Kristiani Tentang Dosa)


oleh Juan Mahaganti pada 17 September 2009 jam 14:57

5. Tuhan Memang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Kasih. Jawaban Kristiani.

Bagian 1 : Natur Dosa
Apa itu dosa? Tentu saja setiap agama berurusan dengan masalah dosa. Tetapi banyak ajaran agama mendekatinya dengan pendekatan terlalu sederhana, dan kenyataan yang kita hadapi sehari-hari tidaklah sesederhana pemikiran beberapa orang. Kenyataannya, hanya Kristenlah yang melihat bahwa dunia ini sebenarnnya indah dan karena keangkuhan kita manusialah dunia ini menjadi seperti yang tidak selayaknya. Begitu banyak kebaikan, tetapi pada saat yang sama ada begitu banyak kejahatan yang menimbulkan begitu banyak penderitaan. Dengan kenyataan ini, menelan ide kekristenan tampaknya adalah hal yang sangat sulit. Jauh lebih mudah menerima ide bahwa tidak ada yang menciptakan dunia ini, bahwa dunia ini telah melalui sebuah proses, sangat lama dan entah bagaimana, sehingga menjadi seperti sekarang ini. Atau lebih mudah menerima ide, Tuhan yang angkuh diatas sana, yang mana semua terjadi atas kehendaknya, tidak perlu kita tanyakan lagi. Tetapi sekali lagi, ide tersebut sama sekali bukan Kristiani, karena dalam Alkitab kita temukan, bahwa Allah bukan hanya sekedar pengasih, Dialah Kasih itu sendiri (1 Yoh. 1:8).

Ok. Kembali ke pertanyaan awal, apa itu dosa? Sebagaimana begitu banyak pengertian akan sesuatu, datang dari akibat dari sesuatu tersebut, untuk mengerti lebih dalam tentang dosa, ada baiknya kita melihat akan akibatnya. Dalam ilustrasi dalam bukunya, Platinga memberi contoh tentang seorang ayah yang bertanggung jawab, dan penuh kasih pada tiga anak perempuannya. Dirumahnya terdapat sebuah shotgun dan pada malam hari datang seorang pencuri yang berencana mencuri dan memperkosa ketiga anaknya. Akhirnya sang pencuri dibunuh oleh sang ayah. Pertanyaanya sekarang; apakah sang ayah telah berbuat dosa? Platinga mengambil berhalaman dan begitu banyak kata agar kita bisa mengerti akan dilemma sang ayah, secara moral Kristiani, secara hukum dan secara etika. Secara hukum, sang ayah bisa saja dibenarkan karena dia membela anaknya. Tetapi secara moral, dia bersalah, yah karena dia sudah membunuh. Lalu bagaimana ketika penghakiman nanti? Apakah dia akan sangat disalahkan atas dosa ini? Untuk jawaban itu, kita semua tidak tahu karena penghakiman Allah adalah adil. TEtapi satu hal yang pasti, dia berdosa.

Tetapi kenapa dia berdosa, bukankah dia dipaksa untuk berdosa? Dosa adalah penyakit (secara metafora) dan mendatangkan penyakit (secara literal). Sangat jarang sekali, dosa dilakukan satu kali. Ketika anda mengingini, anda berdosa, lalu anda mencuri, dosa lagi, lalu anda berbohong didepan orang, anda berdosa lagi, lalu anda ketagihan mencuri, anda berdosa lagi, lalu anda menjadi pakar mencuri, dan mencuri lagi, sehingga suatu hari anda terpaksa membunuh, dan berbohong, dan mencuri, dan menjadi malas, dan berbohong lagi, terus menerus, semua karena satu dosa awal yang berkembang menjadi liar, seperti kotak Pandora yang terbuka. Seperti virus yang masuk ketubuh anda dan beranak pinak didalamnya. Dosa sangat sulit dilakukan sekali, dan sekali berdosa, anda membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk dosa yang lain. Lalu sifat universal kedua dari dosa adalah; sebuah dosa akan menyebabkan dosa yang lainnya. Dosa adalah penyakit yang paling berjangkit. Ketika kita berdosa pada orang lain, semua itu akan menciptakan dosa-dosa yang lain. Contoh yang paling saya sukai adalah Pentalogy “Silence of The Lamb” dan sebelum film terakhir diliris (yang menceritakan kehidupan awal Hannibal Lecter) kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang menciptakan monster kejam ini. Ternyata, Lecter adalah hasil kekejaman Perang Dunia 2, yang perang dunia 2 adalah hasil dosa sebelumnya, dan dosa sebelumnya, ddsb (dan dosa sebelumnya). Hannibal Lecter nantinya akan menciptakan dosa lain, yang ceritanya diperumit di film lanjutan berjudul “Hannibal”. Jika kita lihat, semua dosa didunia ini adalah akibat dosa sebelumnya. Murid yang menyontek, karena kemalasan. Kemalasan datang dari kegagalan orang tua, kegagalan mungkin datang dari ketamakan berlebihan akan uang, ddsb (dan dosa sebelumnya).

Tetapi kekurangan besar kita adalah kita gagal melihat akibat dan berhenti mencegahnya, melainkan kita membalas dosa dengan dosa lain dan hasilnya lebih banyak dosa yang datang, lebih menumpuk dan menuju hasil yang mengerikan. Ketika puncaknya dicapai, kita bergidik, tetapi berikan kesempatan iblis datang lagi, dan kita mulai lagi dari awal dalam akumulasi dosa. Lagi kita membalas dosa, menciptakan lingkaran setan yang baru, membalas dosa dengan dosa. Platinga berkata, kita pintar dalam melihat konteks (apa konteks dosa, pembunuhankah, pencuriankah, pemerkosaankah), tetapi kita sering gagal melihat motif (kesempatan mungkin, keterpaksaan mungkin, ketakutan mungkin), tetapi kita banyak gagal untuk mencari tahu apa yang dibalik motif (kesalahan si korban mungkin, kesalahan kita mungkin, nafsu dari dalam hati, dsb). Sehingga ketika kita melihat kejahatan, maka kejahatanlah yang pertama menguasai diri kita. Ambil contoh ; Perang melawan terorisme. Ketika AS melaksanakan perang melawan terorisme, yang mereka ingat hanyalah 11 September 2001. Kemarahan memimpin hati mereka, mereka melabrak apa saja yang ada didepan mereka dengan slogan : “Dengan kami, atau lawan kami.” Tidak ada satupun yang sadar dengan kenyataan “apa yang sebenarnya menyebabkan orang-orang tersebut membenci kita dengan sangat?” Apa yang menyebabkan mereka begitu gila sampai mau menabrakan diri dengan pesawat? Tidak ada yang bertanya demikian, tetapi mereka membalas dosa, dengan lebih banyak dosa, sehingga lebih banyak darah yang tertumpah, lebih banyak penderitaan yang diciptakan.

Begitu juga dengan para fundamentalis Muslim. Ketika mereka mendengar Amerika, yang mereka ingat hanyalah penindasan sesama Muslim oleh orang Israel, yang diusir dari rumah-rumah mereka dan begitu banyak cerita mengerikan lagi dari Timur Tengah, sehingga mereka merasa harus membalas dosa ini, dan menyesalnya mereka membalas itu dengan dosa lain, yang nantinya akan menimbulkan lebih banyak dosa. Sekarang beralih kepenyebab lebih awal, yaitu Negara Israel. Ketika mereka melihat tanah Palestina, yang teringat dalam pikiran mereka adalah penyiksaan selama ribuan tahun dan mencapai puncaknya ketika Holocaust. Kata mereka mungkin: 6 juta dari kita sudah dibantai, dan jutaan lainnya berabad-abad sebelumnya, sehingga inilah tanah yang dijanjikan bagi kita, mari kita rebut dengan berbagai cara, apakah itu dengan membunuh, menghancurkan kedamaian, apapun biayanya kita harus rebut. Bayang-bayang dosa orang lain yang diperlakukan pada mereka, terngiangiang dan menjadi penyemangat mereka untuk memasuki rumah-rumah, menipu, menjarah, merusak, membunuh dan berperang. Dan mari ke masa penyebab lebih awal; Awal dari Holocaust yang menyebabkan semua kekacauan diatas. Para pemuda-pemuda Jerman, dibawah pimpinan pengikut Nihilist bernama Adolf Hitler, dipompa semangatnya oleh pidato sang pemimpin tentang kekurangajaran yang dilakukan oleh Negara-negara barat dan persekongkolan Yahudi untuk menghancurkan bangsa mereka melalui perjanjian Versailles. Mereka direndahkan, sehingga ini saatnya balas dendam. Dan ketika geng bernama Naziisme ini berkuasa, mereka membawa misi balas dendam yang penuh kebencian, hancurkan, taklukan Eropa yang sudah menyengsarakan kita, dan bunuh semua Yahudi yang engkau temui, mereka penyebab kekalahan kita. Ok. Mari kembali ke penyebab sebelumnya, ketika ditanda tanganinya perjanjian Versailles. Para Negara pemenang merancang sebuah draf perjanjian yang adalah kombinasi dari Kemarahan, Balas Dendam, Kesombongan, Kegeraman tiada duanya, dan perjanjian ini akan punya satu tujuan; Menghancurkan bangsa Jerman sampai mereka menjadi abu. Tetapi dalam sejarah, kita lihat, kekejaman perjanjian Versailles, akan menciptakan kekejaman yang begitu mengerikan, dan menciptakan kekejaman berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan seterusnya.

Nah, kalau saya ingin merunut jauh lebih dalam, tentu saja akan membutuhkan sebuah buku lengkap sejarah dunia untuk melihatnya. Dan percayalah, lebih kedalam kita melihat, lebih kebawah kita mempelajari, sebenarnya SELURUH RANGKAIAN SEJARAH DUNIA ADALAH KEGAGALAN KITA DALAM MELIHAT NATURE DOSA YANG SEBENARNYA. Sejarah kita adalah catatan keberhasilan iblis dalam memutar otak kita, dan dengan begitu berhasil, lagi dan lagi, menipu diri kita, membiarkan dosa menguasai hati kita dan bukannya Roh Allah yang menguasai diri kita.

Tentu saja saya tidak bisa memaparkan semua efek domino dari dosa ini. Yang saya bisa lakukan adalah menunjukan cukup bukti bagaimana dosa itu adalah sebuah rangkaian perbuatan yang punya akibat yang begitu merusak. Yang saya bisa rangkaikan adalah Perang terhadap terorisme, yang diakibatkan oleh perang dunia 2, yang diakibatkan oleh perang dunia 1 (ini hanya gambaran besarnya, anda akan temukan begitu banyak contoh kehidupan sehari-hari seperti kecanduan narkoba yang disebabkan oleh kesombongan si anak, yang disebabkan oleh perkelahian orang tua, yang disebabkan oleh kesibukan terlalu tinggi, atau mungkin perselingkuhan, ddsb). Pada perang dunia 1, saya berhenti, karena kalau kita berusaha menceritakan semua, maka catatan ini tidak akan selesai. Tetapi mari kita skip semua itu, dan beralih ke awal dari segalanya, awal dari segala dosa yang nantinya akan berjangkit, berlipat ganda, dan memberikan efek menakutkan ini. Ke “Causa Prima” dari segala dosa, ke akar dari segalanya. Sumber dari semua itu, dan anda bisa menemukannya di Alkitab pada kitab Kejadian Pasal 3. Inilah awal dari kejatuhan kita sebagai manusia. Ketika leluhur kita melakukan dosa pertama. Dosa pertama bukanlah dosa ingin cari tahu, bukan dosa sexual, bukan dosa penipuan, tetapi keangkuhan. Ya, keangkuhan Adam dan Hawa, agar mereka bisa menjadi sama dengan Allah. Dosa inilah yang menyebabkan sang iblis (Lucifer) dilempar dari sorga ke dunia, karena keinginannya untuk sama dengan Allah. Melupakan kodrat bahwa kita sebenarnya hanya ciptaan. Dosa keangkuhan Adam lalu menuntun kepada lepas tanggung jawab, lepas tanggung jawab menuntun kepada lebih banyak dosa. Pembunuhan, keangkuhan lagi, kekacauan lagi, pembunuhan, penipuan, pencemaran, dan seterusnya, dan disinilah kita, di abad 21, hidup di dunia yang penuh bergelimpangan dosa. Lihat disekeliling anda sekarang, dan dosa menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan, bahkan menjadi kebiasaan. Seperti kata Ravi Zacharias, tidak cukup dengan peraturan, kita memerlukan polisi, tidak cukup dengan perjanjian, kita memerlukan kontrak, semua hal-hal yang menjadi kebiasaan kita ini ada karena ketakutan kita akan kemungkinan sesama kita untuk berbuat dosa.

Dosa sudah menjadi satu mata rantai yang membingungkan, sudah menjadi jejaring yang begitu rumit, sehingga kita ditarik kedalam jaringan ini untuk memulai jaringan kita yang baru. Meminjam kata-kata Jerome (bukan St. Jerome, tetapi teman saya Jeremiah Inkiriwang dosa awal leluhur kita sudah menjadi MLM yang begitu besar, dengan pucuknya adalah leluhur kita sendiri. Ketika kita dilahirkan didunia kita hidup di tempat dimana dosa sudah begitu mendarah daging. Sehingga demikianlah yang disaksikan Paulus dan Yohanes : Kita semua sudah berdosa!

Sekarang, bagaimana dengan Tuhan. Bukankah Dia maha Kuasa, maha baik, maha kasih, maha tahu. Tidak bisakah Dia mencegah semua ini? Ada yang salah dengan Dia yang Maha baik ini, jika melihat keadaan dunia yang sekarang. Hmmm, saat ini saya sedang berusaha menjawab dari sudut pandang Kristiani, sehingga ijinkan saya mengatakan ini, serendah hati mungkin; hanya dalam Kristenlah kita bisa temukan sebuah rangkaian jawaban secara memuaskan dari masalah ini. Kenyataan bahwa Yesus yang mengaku sebagai Tuhan, yang mengaku bisa mengampuni dosa manusia dan kenyataan bahwa Dia mati dan dibangkitkan kembali, Doktrin bahwa Dia adalah Tuhan yang menjadi manusia, bahwa kematianNya membawa keselamatan, bukanlah hanya sekedar pengetahuan isapan jempol belaka. Bukanlah sekedar karangan manusia-manusia abad pertama yang terganggu jiwanya. Tetapi adalah sebuah manifestasi kebenaran sekaligus manifestasi Kasih Allah yang begitu besar atas keadaan dunia yang menyedihkan ini. Mengingat penjangnya penjelasan ini, saya akan menyajikannya pada catatan berbeda, yang mudah-mudahan bisa saya posting dalam waktu dekat.

Dosa I


oleh Juan Mahaganti pada 17 September 2009 jam 14:46

Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karean dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. BagiNyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin – Galatia 1:3-5 –

Catatan ini adalah intisari dari tambahan hikmat yang saya peroleh dari buku “Mere Christianity” oleh C. S. Lewis (belum ada terjemahan bahasa Indonesianya, penerbit mana nih yang mau nerjemahin? Buku ini bagus lho), “Not the Way It’s Supposed to Be” oleh Corrnelius Plantinga, Jr. (untuk lebih lengkap tentang ajaran Kristen mengenai Dosa, baca buku ini) dan “Doktrin Yang Sulit Mengenai Kasih Allah” oleh D. A. Carson (untuk lebih lengkap tentang ajaran Kristen mengenai Kasih Allah, baca buku ini, tetapi bahasanya bikin pusing, mendingan baca Alkitab dech), dan Alkitab (Sudah diterjmahkan dalam banyak bahasa, siapa yang belum punya, kasih alamat, nanti semampu saya, saya kirimi). Begitu juga dengan begitu banyak rekaman seminar dari Veritas Forum dan Ravi Zacharias International Ministry. Tetap dukung mereka dalam doa, dan dalam segala kemampuan kita, untuk menyebarkan Injil Yesus Kristus keseluruh dunia.

Salah seorang teman saya, ketika dia berdoa, selalu membukanya dengan kata “Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Kasih disorga.” Memang inilah sifat Allah itu, Dia Maha Kuasa, segala hal ada di bawah kuasaNya. Dia Maha Tahu, Dia tahu apa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Bahkan Dia tahu, apa yang terjadi seandainya kita melakukan bukan yang sudah kita lakukan. Dia tahu semua alternative paska kejadian dari semua kejadian, walaupun kejadian itu tidak terjadi. Dan tentu saja, Dia Maha Kasih. KasihNya lebih lebar dari samudera, lebih dalam dari lautan. KasihNya tetap tanpa berkesudahan.

Tetapi ada kenyataan yang tidak mengenakan yang kita alami di dunia ini. Anda nyalakan TV anda dan lihat saja apa yang sedang terjadi. Dosa yang dilakukan manusia dengan dampaknya yang mengerikan. Sehingga timbulah dalam pikiran kita, bagaimana bisa ada kejadian yang tidak menyenangkan ini, di bawah dunia yang katanya ada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Pengasih. Dengan munculnya berbagai dosa dan penderitaan, kenyataan ini paling tidak akan menggoncang akal sehat kita untuk berpikir, apakah memang Allah Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Pengasih? Bahkan otak kita bisa saja dituntun kearah logika paradox ini (yang sudah dikembangkan sejak berabad-abad lalu oleh banyak pemikir) :
1. Allah Maha Kuasa, Dia menciptakan segalanya! Dia Mengasihi yang diciptakanNya, tetapi tidakah dia tahu bahwa ciptaanNya akan melakukan pelanggaran nantinya? Owh, berarti Dia maha kuasa, maha pengasih, tetapi tidak maha tahu.
2. Allah Maha Tahu, Dia Maha Kuasa, tetapi Dia sengaja menciptakan makhluk yang nantinya akan melanggar perintahNya, dan mungkin saja melihat dari jauh akibat dari dosa ini berupa penderitaan manusia, tetapi kok tidak dicegah walaupun Dia sudah tahu? hmmm, berarti Dia tidak Maha Pengasih.
3. Allah Maha Pengasih, dan Maha Tahu. Dia tahu bahwa nantinya ciptaan ini akan berbuat pelanggaran, tetapi Dia tidak mampu mencegah pelanggaran ini, karena sudah terlanjur diciptakan. Aha!! Berarti Dia tidak maha kuasa.

Dari tiga point di atas, dengan kata lain, karena adanya dosa dan implikasi dosa berupa penderitaan, kita seakan-akan bisa melihat bahwa Allah itu bisa saja memiliki dua Atribut yang diucapkan teman saya dalam doanya, tetapi tidak mungkin ketiga-tiganya. Wah, bingung deh. Tetapi, ada beberapa jalan keluar dari masalah ini. Cara pandang kita tentang Allah (berdasarkan akar kepercayaan kita) akan sangat menentukan cara menjawab paradox ini (kedengaran pragmatis, tetapi saya bukan pragmatis). Beberapa jalan keluar paradox ini bisa seperti ini :

1. Tuhan Memang Tidak Tahu dan Tidak Maha Kuasa
Ok. Terkesan penuh humor, tetapi pada beberapa orang ini konsep yang dipercayai. Saya persilahkan anda untuk pergi ke Veritas.org dan download rekaman diskusi antara tiga kepercayaan, saya lupa pembicaranya, tetapi jika anda download, anda akan temukan disitu ada tiga pembicara masing-masing mewakili tiga kepercayaan berbeda; Kristen, Humanisme-sekularisme, dan Buddhisme. Ketika ditanya pertanyaan “apa pendapat masing-masing mengenai masalah kesengsaraan di dunia” sang Bikhu menjawab dengan sebuah cerita dari literature Buddhisme. Diceritakan bahwa, dahulu kala, ketika sang Buddha pada kehidupan sebelum dia mencapai pencerahan (sebelum dia menjadi Buddha), dia hidup sebagai seorang bijak (sage) dan seorang petapa yang hebat, sampai suatu hari dia bertemu dengan Tuhan sang pencipta alam semesta, yang dalam budaya India disebut Brahma. Buddha, kemudian berbincang-bincang dengan Brahma dan bertanya beberapa hal, termasuk penderitaan. Dihadapkan dengan pertanyaan ini, sang Brahma dengan singkat berkata “Aku tidak tahu.” Sang Brahma melanjutkan; “Aku menyayangi manusia, tetapi aku tidak tahu kenapa semua jadi begini, dan Aku tidak bisa memperbaikinya. Tetapi, suatu saat nanti, kamu (sang Buddha) akan mengetahui jawabannya. Dan ketika engkau mengetahui jawabannya, aku minta kamu lakukan dua hal. Pertama, datang dan beritahu aku. Kedua, beritahu semua umat manusia agar mereka bisa bebas dari masalah ini.”

Ok. Bisa diterima dengan akal bukan. Dunia menjadi seperti ini, karena memang, Tuhan tidak tahu. Bisa saja benar, bahwa Dia memang tidak maha Tahu dan tidak Maha Kuasa. Tetapi apa implikasinya keadaan Tuhan yang seperti ini bagi hidup kita? Pertama, saya akan meninggalkan semua hal duniawi dan pergi bertapa, agar saya terbebas dari masalah (seperti yang dilakukan sang Buddha). Cara kedua, yang paling gampang, adalah memilih cara yang paling nyaman untuk bunuh diri. Ya!! Karena tidak ada harapan lagi. Dunia ini penuh kejahatan dan dosa dan penderitaan yang adalah hasil dosa, dan bahkan Tuhan sendiri dipusingkan dengan dosa, maka yang bisa saya lakukan adalah lari dari dunia ini. Hidup saya didunia ini adalah tidak ada artinya sama sekali, dan kalau sudah begitu, apa gunanya saya hidup? Yaah, kalau saya nantinya berreinkarnasi, mudah-mudahan saya sekarang sudah mengumpulkan karma baik sehingga dilahirkan menjadi lebih baik (tetapi tetap didunia penuh dosa), tetapi kalaupun karma saya kurang, dan saya dilahirkan jadi babi, atau amoeba, atau bakter, tidak apa-apa, kan amoeba itu bukan tubuh saya yang sekarang, dan pikirannya juga bukan pikiran saya, jadi itu bukan saya. Satu-satunya pertanggungjawaban moral dengan mengakhiri hidup ini adalah: kasihan orang-orang yang saya tinggalkan, dan kasihan si babi yang harus dilahirkan ke dalam dunia penuh dosa karena kematian saya. Tetapi apalah gunanya pertanggung jawaban moral? Saya sudah tidak ada, sudah terbebas dari segala hal, termasuk hidup didunia ini, dan terbebas dari pertanggung jawaban moral. Saya tidak perlu merasa bertanggung jawab, simply karena saya sudah tidak ada, saya merdeka.

Yah, ini tampaknya jawaban pragmatis, tetapi dalam beberapa budaya memang seperti ini. Seperti contohnya dalam Film “God Must Be Crazy”, dimana begitu banyak masalah yang datang karena benda yang dikirim Tuhan, dan sang tokoh utama berkata : Hmmm, apakah Tuhan pasti gila?

2. Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, tetapi tidak maha kasih.
Dalam film “Constantine” (diperankan oleh Keanu Reeves), dalam salah satu dialog, Constantine berusaha meyakinkan sang pemeran utama wanita agar mau ikut dengannya, dan berkata, “coba bayangkan, Tuhan membuat perjanjian dengan iblis, untuk saling berebut hati manusia…. Untuk apa? Entahlah, mungkin untuk bersenang-senang.” Inilah alternative jawaban berikut atas masalah dosa. Bahwa Tuhan menciptakan kita, mungkin hanya untuk kesenangannya. Seperti anak kecil yang bermain permainan labirin, dan menempatkan tikus di dalam kotak labirin, dan melihat, apakah tikus memilih lorong A atau lorong B, dengan setiap lorong memiliki ganjaran masing-masing. Einstein pernah berkata bahwa “Aku tidak pernah percaya bahwa Tuhan bermain dadu dengan dunia,” tetapi kalau kita ambil alternative jawaban ini, tampaknya memang Tuhan bermain dadu dengan manusia, atau Dia memperlakukan kita sebagai mainan. Dia menciptakan kita, dan melihat dari jauh, apakah kita akan mengikuti Dia, atau mengikuti iblis, tetapi dia tidak mau ikut campur, karena kalau ikut campur, akan mengurangi keasyikan permainan. Beberapa agama tampaknya memilih jawaban ini, dengan berkata; Ah, itu sudah kehendak Tuhan, tidak usah cari tahu, Dia memang maha kuasa, “KEHENDAK TUHAN” memang sudah begitu. Dan dengan konsepsi Tuhan seperti ini, pernyataan “Tuhan begitu pengasih” kedengaran sangat-sangat absurd.

Hmm, bisa saja betul. Atau, andaikan anda bisa buktikan pada saya bahwa ini benar, apa implikasinya bagi hidup kita? Saya ingin bertanya; kalau memang ini jawaban atas masalah dosa, bahwa dosa sebenarnya adalah hasil permainan dadu, darimanakah penurutan kita terhadap Tuhan? Bagaimana kita bisa menurut padanya? Kalau memang inilah yang sebenarnya, tidak heran bahwa Constantine tidak pernah mau mengimani Tuhan, karena memang Dia tahu, bahwa Tuhan (seperti yang konon dia ketahui) memang tidak layak disembah. Sampai mati, Constantine mengabdi kepada Tuhan hanya untuk mendapat “tiket” ke surga, tanpa pernah mencintai Tuhannya. Walaupun, setiap hari Constantine dihadapkan dengan begitu banyak bukti magis kehadiran Tuhan, dia tidak bisa mencintai Tuhan yang seperti ini.

3. Tuhan yang tidak maha kuasa karena sedang bertarung dengan Iblis, kita sebut ajaran ini Dualisme

Dalam film Star Wars, terdapat sebuah bentuk kekuatan gaib bernama the Force. The force katanya bisa menuntun kita, memberi kekuatan, dan bahkan ketika para Jedi berpisah, mereka selalu mengucapkan “semoga Force bersamamu.” Tetapi ada hal yang lucu, karena Force itu ternyata ada sisi gelap, yang menuntun kepada kejahatan, kemunafikan, kedengkian, kemarahan, dan berbagai hal negative lainnya. Sehingga ternyata Force yang terang, sedang bertarung dengan force yang gelap dalam memperebutkan hati manusia. Seperti inilah ajaran Dualisme itu, bahwa Tuhan sedang bertarung dengan Iblis, Dia tidak maha kuasa, karena pada beberapa saat, kejahatan berhasil menguasai manusia, dan memang pada beberapa kesempatan, Tuhan berhasil merebut manusia, tetapi tetap ada kesan pembatasan akan ke Maha Kuasaan Tuhan disana. Hmm, bisa saja ajaran ini benar, tetapi sekali lagi, apa implikasi bagi hidup saya jika ajaran ini benar? Wah, pasti luar biasa! Ternyata pikiran saya adalah benda berharga yang diperebutkan oleh dua kekuatan ini. Tetapi apa yang bisa saya harapkan oleh konsep Tuhan yang seperti ini? Segala hal di alam semesta ini ternyata tergantung pada saya, siapa yang saya pilih. Jadi, pusat alam semesta adalah saya. Dan pertanyaanya, lalu kalau sayalah pusat alam semesta, lalu untuk apa sang pencipta menciptakan saya? Hanya sebagai tempat ajang kompetisi? Dan betapa anehnya sang pencipta tersebut, yang mampu mencipta tetapi tidak mampu mendominasi.

4. Agnostisisme
Agnostisisme bertumpu pada kepercayaan bahwa kita sebagai manusia, tidak mampu mengetahui keberadaan Tuhan. Sehingga menurut Agnostik, keberadaan Tuhan itu bisa saja tidak ada, atau kemungkinan ada sangat kecil. Begitu banyak pemikir besar mempercayai ini; Einstein, Huxley, Hume, Kant, dsb. Pemikiran Agnostik bisa saja menuntun kepada Atheisme. Dan apa implikasi dari pemikiran ini? Tentu saja, kita kehilangan patokan moral. Apa yang baik dan apa yang jahat tidak akan Nampak bagi kita. Hidup tidak berarti dan segala hal menjadi relative. Yang bisa kita lakukan adalah membiarkan hidup mengalir, menjadi orang baik sudah cukup. Tetapi apa yang baik ketika semua menjadi relative? Hidup menjadi tanpa arti tanpa kehadiran sang Pencipta, dan ini adalah cara paling baik untuk menghindari argument paradox yang saya sudah ajukan diatas. Tetapi tampaknya dengan beberapa argument, agnostic belum tentu bisa dibenarkan.

5. Argumen Kristani.
Sebelum saya melompat lebih jauh, saya harus ingatkan saudara, bahwa pembahasan ini akan sangat panjang. Saya akan mulai dengan pertanyaan; Apa itu dosa? Lalu, apa implikasinya bagi kita? Dan setelah itu, kita akan coba menjawab; apa yang bisa saya lakukan (atau Tuhan akan lakukan) agar saya bisa keluar dari implikasi dari dosa. Terakhir, setelah mengetahui apa akibat dan jalan keluar dosa, apa pengaruhnya bagi hidup saya. Dan dalam pemaparan tersebut, sambil saya akan berusaha memberikan jalan keluar dari paradox diatas. Pada saat pertama kali menulis, saya berasumsi saya bisa membahasnya secara singkat. Tetapi setelah belajar lebih jauh, saya menyadari bahwa perlu pemikiran yang keras, membaca, mendengar dan mencari tahu yang lebih dalam tentang hal ini. Dan lebih dalam saya belajar, lebih saya memuliakan Tuhan yang begitu Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Kasih ini. Mengingat panjangnya pembahasan ini saya sebaiknya membuat suatu catatan terpisah tentang hal ini.

Logika Humenian, Sikap Anti Mujikzat, dan Sikap anti Trinitas


oleh Juan Mahaganti pada 31 Agustus 2009 jam 8:24
“Petani tua, sepanjang hidupnya hanya melihat ayam, bebek dan sapi. Suatu hari dibawa ke kebun binatang. Dan di kebun binatang dia melihat jerapah. Sama sekali belum pernah dalam pengalamanya dia melihat hal tersebut. Dia menatap jerapah tersebut, dan tiba-tiba menutup matanya dan berteriak : “Tidak ada binatang seperti itu!!” Di depan sebuah keterkejutan, kamu bisa melakukan dua hal, pertama, menyelidiki keterkejutan tersebut, dengan sangat hati-hati, menggunakan teknik yang sama yang engkau gunakan dalam menyelidiki apa pun. Atau, menolak memperluas pengalamanmu dan memaksakan bahwa kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Dan orang-orang yang berargumen menentang mujikzat, seperti David Hume dan penganut atheisme… selalu berasumsi bahwa mereka sudah memiliki sebuah struktur yang paten untuk mengerti alam semesta, yang bisa dipercaya, untuk menjabarkan semua kejadian, dan akhirnya ketika kita menemukan sebuah kejadian yang sangat mengejutkan (sangat tidak mungkin), sehingga tidak perlu lagi diselidiki… Ini adalah cara berpikir yang tertutup, yang mana hal ini (argument humenian) tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, filosofis dan yuridis.”


Kutipan diatas saya ambil dari sesi tanya jawab, seminar yang dibawakan oleh John Montgomery berjudul “A Lawyer Examining Case of Christianity” (bisa didownload gratis di site Veritas Forum). Hal yang menarik bahwa semua orang yang menolak untuk menyelidiki keanehan sebuah kejadian, dan percaya sebelum menyelidiki, adalah orang-orang yang terlalu percaya diri dengan prekonsepsi mereka tentang alam semesta, sehingga menolak untuk mengakui sebuah hal yang sebenarnya kelihatan tidak logic. Mereka menolak sebelum menyelidiki, inilah dasar pemikiran ateistik Hume.

Ketika saya berdiskusi dengan beberapa teman tentang “Trinitas” ada hal yang selalu mengganjal, bahwa mereka selalu menolak Trinitas, tanpa dasar sedikitpun selain prekonsepsi mereka bahwa Trinitas tidak logis, dengan dasar, bahwa seakan-akan mereka sudah punya pengertian logika yang bisa dipercaya, yang sudah fix dan tidak bisa dirubah, dan pengertian itu mereka rasa sudah cukup untuk mengerti “nature” Tuhan, sehingga mereka tidak perlu lagi menyelidiki apakah Trinitas benar. Yang mana, sebenarnya prekonsepsi yang sifatnya sama dengan argument Humenian ini. secara filosofis, hal ini tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Contohnya, penganut Yahudi. Mereka tidak percaya akan Pluralitas Tuhan, tetapi Tuhan satu (dalam Kristen kita menyebutnya Trinitas). Konsep bahwa Tuhan Jamak tetapi tunggal memang sukar dimengerti, bahkan akan melampui logic kita, sesusah logic kita menerima mujikzat seperti seorang yang lahir dari seorang perawan, atau membangkitkan orang yang sudah mati, atau memberi makan lima ribu orang dengan hanya lima potong roti dan dua ekor ikan. Orang Yahudi, tidak pernah percaya konsep pluralitas Tuhan, tetapi tetap satu Tuhan. Tetapi, kitab suci mereka (yang juga buku yang saya percayai bernama perjanjian lama), me-refer Tuhan sebagai jamak contohnya, Tuhan dalam perjanjian lama menyebut diriNya sebagai, “Kita” (contohnya pada Kejadian 1:26). Kata “Tuhan” dalam bahasa perjanjian lama adalah “Elohiym” ( אלהים) yang adalah bentuk jamak dari kata “Eloahh” (אלוהּ). Jadi ketika dalam Ulangan 6:4, disebut disana : “Tuhan (Elohiym) adalah satu”, ada sebuah keanehan disana, seaneh mujikzat. Ada Tuhan yang jamak, tetapi satu. Tuhan adalah Satu! Tetapi ada tiga pribadi, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh. Tetapi satu!

Jika kita dihadapkan pada konsep ini, dan mengambil sikap seperti petani tua dalam kutipan diatas. Akan dengan mudah kita menutup mata, dan dengan asumsi Humenian, kita berteriak : “TIdak mungkin Tuhan jamak tetapi satu. Sudah, itu tidak logis, Tuhan tidak mungkin Trinitas!!” Tetapi jika kita merendahkan diri kita, memberi sedikit tempat untuk keinginan mengerti akan “nature” Tuhan yang melampaui pengertian kita, maka kita akan memberi diri kita untuk menyelidiki lebih dalam, melampaui pengertian kita, yang setelah kita mengerti sebenarnya kita tahu bahwa logika kita ternyata masih sangat, sangat dangkal.

Kasih Tuhan, Penciptaan dan Hari Sabbath


oleh Juan Mahaganti pada 31 Agustus 2009 jam 8:22

Kitab Kejadian berkata bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (beberapa orang menginterpretasikanya sebagai enam tahun, ada yang bilang enam milyar tahun, dan sebagainya. Tidak apa-apa, saya tidak mau membahasnya disini). Enam hari… hmmm, bukankah ini waktu yang terlalu lama untuk Tuhan yang maha kuasa? Dengan kemahakuasaanNya, Tuhan bisa menciptakan dunia lebih cepat! Enam menit misalnya, atau enam detik, atau 0,0006 detik, atau dalam sebuah kedipan mata, lalu kenapa perlu waktu begitu lama? Kenapa perlu waktu selama enam hari? Bahkan ada yang lebih aneh. Kitab Kejadian menceritakan bahwa pada hari ke-7, Tuhan beristirahat! What!!! Tuhan beristirahat? Kelihatan kok lemah banget, Tuhan katanya maha kuasa, lalu kok istirahat. Membingungkan bukan…

Suatu paradox yang luar biasa : Allah maha Kuasa, tetapi beristirahat, suatu keanehan. Bagaimana kalau kita jawab keanehan ini adalah bukti Kasih Tuhan. Hmmm, bagaimana bisa? Ok. Jika anda baca di salah satu catatan saya (yang juga ada di blog Friendster saya), ada salah satu cerita tentang sepuluh kejadian paling menyakitkan hati ketika saya belajar di Unklab. Pada kejadian no. 2, adalah kejadian dimana Mr. Abin (Yang katanya sedikit lagi jadi DR. Abin, Tuhan menyertai Sir…) menyuruh semua mahasiswa yang mengambil kelas “Daniel Prophecy” untuk meringkas buku “Kemenangan Akhir” karya Ny. E. G. White. Nah, kalau di catatan itu saya menyebutnya sebagai kejadian menjengkelkan, sekarang saya harus revisi, bahwa kejadian tersebut sebenarnya adalah berkat. Berkat karena akhirnya itu menjawab keanehan (paradox) di atas! Jika anda membaca pada salah satu bab di buku “Kemenangan Akhir” (kalau anda memang membuat tugas tersebut se serius saya, dan sekarang anda tahu betapa seriusnya saya membuat tugas itu, dan betapa sakit hatinya saya ketika kerja keras itu hanya dihargai dengan guratan tinta; “OK.” Anyway, terima kasih Sir Abin atas tugasnya, paling tidak itu memberi saya banyak pengertian dan pengetahuan), ada salah satu Bab dalam buku itu yang membahas tentang Revolusi Perancis. Di situ diceritakan bahwa pada masa revolusi Perancis, pemerintah baru yang Atheis, membuang semua pengaruh Kristen dalam bentuk apapun di kehidupan masyarakat, termasuk merubah urutan hari, dan merubah urutan Tahun AD yang katanya berbau Kristen, dan menggantinya dengan system yang sama sekali baru. Nama bulan diganti, Tahun, dimulai dari Tahun 1, dan system Alkitab 7 hari, diganti menjadi sepuluh hari (yang disebut Decades) dan hari kesepuluh diputuskan sebagai hari peristirahatan.

Apa yang terjadi selanjutnya? Ny. White mengutip pernyataan seorang sejarawan yang menceritakan bahwa pada saat itu, bahkan bagal (binatang kuat hasil kawin silang antara kuda dan keledai) yang paling kuat pun! Tidak mampu bekerja dengan benar dalam system sepuluh hari ini, apalagi manusia!! Masyarakat tidak bisa bekerja dengan baik, ada yang mengalami stress berat dan kesehatan yang terganggu, tetapi mereka tidak bisa memprotes, karena dengan memprotes, berarti membawa kepala mereka ke pisau guillotine. Kekacauan ini berlanjut sampai akhirnya system ini dihapus oleh Napoleon. Saya menyebut ini sebagai proyek gagal dari sebuah experiment untuk menentang kehendak kasih Allah.

Okay, kisah nyata ini menjawab kebingungan yang saya pertanyakan diatas. Kok Tuhan yang maha Kuasa, menciptakan dunia selama enam hari, hari ketujuhnya istirahat? Dia melakukannya bukan karena Dia lemah, tetapi karena Dia ingin menunjukan bagi kita sebuah pola, pola yang kalau kita ikuti akan menguntungkan diri kita. Pola tujuh hari adalah pola ideal untuk tercapainya keseimbangan dalam pertumbuhan manusia yang seutuhnya, secara fisik, mental, dan rohaniah (spiritual). Kalau kita melanggar pola yang sudah Tuhan set ini (karena Dia yang paling tahu akan ciptaanNya), maka yang rugi adalah diri kita sendiri. Ketika Tuhan menyuruh kita lewat 10 hukum, dalam hukum ke-4, untuk mengingat dan menguduskan hari Sabbath, Dia tidak sekedar bercanda atau mencari hormat, Dia ingin agar kita bertumbuh secara ideal sebagai manusia. Langgar hukum ini, yang anda capai adalah kekacauan.

Mungkin setelah membaca ini, ada teman-teman yang berkomentar : “Nah, lia toh!!! Juan so maso Advent.” Saya ingin mengklarifikasi (berbagai isu yang beredar diluar sana), saya sampai detik ini, belum pernah dibaptis ulang, tetapi saya ingin katakan bahwa perintah Tuhan untuk beristirahat setiap tujuh hari bukanlah sekedar main-main, tetapi wujud KasihNya!!! Dia rela menurunkan derajat keagunganNya dengan mengambil waktu enam hari, bukannya 0,(ad infinitum)6 detik, agar kita mengikuti pola ini, demi kebaikan kita sendiri. Tentang hari Sabbath, Yesus berkata bahwa Dia adalah Kurios (Tuhan, Tuan) atas hari Sabbath (Mat 12:8), dan Dia juga berkata bahwa : “Hari Sabbath diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabbath”. Dengan kata lain Dia berkata : Hey, Aku (Yesus, yang oleh siapa dunia dijadikan (Yohanes 1:3) sudah menciptakan dunia selama enam hari untukmu, hai manusia!! Ini demi kebaikanmu, Aku mengambil waktu demikian lama, dan menunjukan padamu, AKU ADALAH ALLAH YANG PEDULI, YANG PENUH KASIH, merendahkan diriKu, dengan berkata bahwa Aku beristirahat, semua demi kebaikanmu!!

Untuk beberapa teman yang workaholic (saya tahu ada beberapa teman saya demikian). Jika engkau ingin keseimbangan dalam hidup, Tuhan sudah memberimu resep. Jika engkau ingin bertumbuh dalam keseimbangan mental, fisikal dan spiritual, khususkan lah satu hari untuk beristirahat. Tuhan sudah memberikannya untukmu. Satu hari untuk bertumbuh secara spiritual. 6 hari lamanya engkau bisa mengejar pertumbuhan secara mental, financial, fisikal, tetapi khususkan satu hari untuk beristirahat dan berbagi keintiman dengan Tuhan, satu hari dikhususkan untukNya, untuk tumbuh secara spiritual, inilah pertumbuhan yang sempurna itu.

Catatan kaki :
Tidak cukup Kasih dan kerendaha hati ini? Hmmm… Dia datang kedunia, menjadi manusia, menjadi demikian hina (meminjam kata seorang teman; tidak berkuasa, sampai netek, nangis, ngompol, dan dibunuh) demi kita! Agar dosa kita ditebus. Man, Dia bahkan sudah menunjukan kerendahan hati dan kasihNya ketika dunia sedang diciptakan… Inilah membuat kita seharusnya cinta kepadaNya, bukan hanya sekedar karena keagungan dan kekuasaanNya, tetapi juga karena KasihNya. Allah maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Kasih. Kalau Mahaganti itu Juan, hehehehe….

Kisah Kasih Terbesar di Alam Semesta


oleh Juan Mahaganti pada 24 Agustus 2009 jam 9:47

Dalam lagu “Kisah Kasih di Sekolah”, sipengarang lagu; Obie Mesakh, berlantun: tiada kisah paling indah kisah kasih di Sekolah! Ok. Kita singkirkan klaim berlebihan tersebut untuk dibahas kapan-kapan. Tetapi mari hayalkan dua kekasih yang dimabuk asmara, mengambil waktu sedikit yang tersedia untuk memadu kasih di suatu sudut sekolah. Sang pria berkata: “Aku mencintaimu, sepenuh hatiku.” Apa arti kata ini? “Aku mencitaimu”, apa artinya? Kalau kalimat ini kita jabarkan maka kira-kira seperti ini: Aku tidak bisa hidup tanpamu, matamu begitu indah, rambutmu, aromamu, membuat duniaku berwarna, engkau alasan aku bertahan hidup, aku disini ada karenamu, hilangkan engkau dari dunia ini, maka hilanglah juga aku. Aku orang paling beruntung didunia, karena aku memilikimu, tidak ada dari dirimu yang tidak layak dicintai, aku seutuhnya milikmu, tidak ada dari diriku yang bukan untukmu! Kalau kita bisa jabarkan lebih lanjut kalimat itu bisa berarti : “Engkaulah istri masa depanku, aku akan menghabiskan seluruh hidupku denganmu”, atau bahkan pada hal yang lebih extrim, yang menuntun kepada dosa, bisa diartikan sebagai : “Ayo kita ke ranjang.”

Begitulah kita ketika dimabuk asmara. Tetapi ada satu kesamaan dalam semua kisah tersebut dengan kisah kasih lainnya, kita mencintai orang yang layak kita cintai. Tentu saja ketika kita berkata bahwa “Aku mencintaimu” tidak berarti : “hidungmu begitu jelek, matamu membuatku sakit ketika memandangku, nafasmu, Oh!!! Terkutuk orang yang berada didekatmu.” Tentu tidak bukan, kita menerima mereka TIDAK apa adanya! Tetapi kita menerima mereka karena kebutuhan jasmani kita, dan pasangan kita adalah individu yang layak kita cintai.

Tetapi apa yang terjadi ketika Allah berkata : Aku mencintaimu? Apakah itu berarti : “Oh!!! Aku membutuhkanmu, oh, sorga akan tandus jika aku tidak bersamamu, neraka membeku karena patah hatiku jika kamu tidak bergabung denganKu disini, Oh!!! Engkau begitu indah, bahkan melebih apapun di alam semesta! Aku membutuhkanmu!!” Apakah pernyataan cinta Allah bisa diartikan dalam penjabaran seperti diatas? Mari kita lihat kenyataannya. Alkitab berkata bahwa kita semua berdosa! Kita begitu hina, bahkan tidak ada satu hal pun yang bisa kita lakukan sehingga sempurna dan layak bagi Allah. Kita makhluk paling hina, hina dina, kotor tak layak, tak berdaya. Aku, dengan dosaku, adalah kejijikan bagi kesempurnaan Allah. Bahkan untuk ukuran manusiapun, bahkan ukuran manusia hina, Aku adalah kehinaan, kejijikan. Engkau akan meludah wajahku, jika engkau bisa membayangkan kehinaanku. Seperti kata Chairil Anwar : Aku adalah binatang jalang dari kumpulan yang terbuang! Bahkan binatang meratap karena dibandingkan dengan diriku. Kadang aku merasa dalam hidupku, aku manusia yang paling tidak berharga? Tidak berarti apa-apa? Tidak ada harganya? Tidak ada yang pernah mencintaiku, aku hidup atau mati, aku ada, tidak ada atau pernah ada, tidak ada pentingnya sama sekali. Tahukah kamu kenapa aku merasa tidak berharga sama sekali? Saya beritahu kenapa : “karena aku memang tidak berharga sama sekali.” Kenapa? Sekarang coba bayangkan seluruh alam semesta ini, begitu luas dan megah, dengan milyaran bintang diangkasa, dengan kehidupan lain yang mungkin berdenyut diluar angkasa sana, dengan jarak yang terbentang begitu jauh, dengan kekuatan alam yang luar biasa, bintang meledak dan lahir, planet tercipta dan hancur, hidup datang dan pergi. Sekarang, coba bayangkan posisiku di alam yang begitu megah ini. Bayangkan, siapa diriku dibanding semua ini. Kau tahu, dirimu, AKU!! tak lebih dari sekedar debu di angkasa ini. Itulah yang kupikirkan tentang diriku! Diseluruh “Cosmos” ini, aku adalah partikel kecil, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat kecil dan tidak berarti.
Bagaimana dengan Allah? Dia adalah kesempurnaan dari semua kesempurnaan, kesucian yang tak bercela, Keagungan yang tiada tara. Keagungan manusia yang paling agung bukanlah bandingan kekuasaanNya. Kekuasaan adalah miliknya, dari mana semua diciptakan, dari mana semua kekuasaan bersumber. Bahkan pikiranku tidak mampu membayangkan keagungannya, kata-kataku tidak sanggup menggambarkannya. Dialah pencipta dan penjaga Alam Semesta. Dialah pemilik segalanya, SEGALANYA!!! Keagungan diatas semua keagungan, kemuliaan diatas semua kemuliaan, kekuasaan melebihi, segala kekuasaan. Lalu apakah diriku ini bagiNya?

Tetapi apa maksudnya ketika dia berkata : Aku mencintamu! Apakah dia membutuhkanku? Hah! Siapa aku ini sehingga dia membutuhkanku? Aku belum bisa menjawab. Tetapi kalau engkau ragu dengan perkataanya ketika dia mengatakan bahwa Dia mencintaiku, aku akan ceritakan apa yang Dia sudah lakukan untukku. Dia datang kedunia, dunia yang Dia ciptakan, tetapi tidak mengenal Dia (Yohanes 1:10). Dia datang kedunia untuk sebuah tujuan. Aku berdosa, tetapi Dia menanggung dosa itu untukku, makhluk paling hina ini. Dia disiksa oleh umat ciptaanNya, dihukum untuk kebersalahanku. Aku yang mestinya menganggung itu, tetapi Dia yang adalah Kasih, menanggung untukku. Aku sebenarnya harus binasa, tetapi Dia memberiku kesempatan untuk hidup abadi bersamaNya. Aku tidak ada harganya, tetapi Dia datang untuk menebusku dari dosaku.

Lalu kenapa Dia melakukanNya? Apa artinya ketika Dia berkata : “Aku mencintaimu”. Dia mengasihiku, karena Dia adalah Kasih (1 Yohanes 4:8)! Dia adalah Kasih! Dia adalah cinta, Dia mencintaiku, Dia mencintaimu. Hanya dengan menghargai pemberian itu, percaya padaNya, hidup dalamNya, aku mendapatkan kesempatan untuk disucikan, aku mendapat hidup baru. Hidup yang lebih baik didunia fana ini, dan hidup kekal ketika Dia datang. Hidup yang penuh kebebasan didunia fana ini, dan penuh keagungan ketika dunia yang abadi datang. Inilah kisah itu, Kisah Kasih terbesar dialam semesta! Kisah kebenaran yang membuatku merasa berharga, membuang jauh rasa ketidak berdayaanku, menggantinya dengan sukacita luar biasa. Menghilangkan rasa hina atas diriku, berganti menjadi rasa bahagia, karena aku mendapat hak disebut anakNya. Menghilangkan rasa terkungkungku atas dosa dunia, menggantikannya dengan kemerdekaan dalam kebenaran yang sejati !! (Yohanes 8:32) Kemerdekaan sejati yang tidak datang dari dunia, tetapi datang dariNya, Yesus Kristus, sumber penurutanku, sukacitaku, kemerdekaanku dan keselamatanku.

Respon untuk Tulisan Sdr. Doni Usman : Tuhan Bangkit dari kubur, Saksinya pasti bukan Tuhan.


oleh Juan Mahaganti pada 19 Agustus 2009 jam 15:18

Tulisan yang bagus dari Saudara Doni dengan judul menantang yang tampaknya logis. Ya!! Masa Tuhan kok mati lalu bangkit! Saksinya pasti bukan Tuhan, wong Dia sedang bangkit. Tetapi cara berpikir yang seakan-akan logis ini saya katakana hanya bisa dinaggap logis jika kita mengenakannya kepada manusia. Ya, tentu saja, Juan tidak bisa menjadi saksi sebuah kasus pembunuhan atas dirinya. Jika anda pernah membaca sebuah Koran yang melaporkan bahwa sang korban pembunuhan menjadi saksi kasus pembunuhannya, itu pasti Koran yang memberitakan berita bohong Tetapi bisakah kita memperlakukan ini bagi pribadi Tuhan? Seakan Tuhan sama terbatasnya seperti kita yang terkurung dalam dimensi ruang dan waktu? Apakah Tuhan hanya bisa berada dalam ruang yang sama dalam waktu yang berbeda? Untuk menjawabnya, saya ingin mengutip nukilan dari buku karya C. S. Lewis, “Mere Christianity.”
Hidup datang kepada kita, moment demi moment. Satu moment pergi sebelum yang lainnya muncul: dan ada ruang yang kecil untuk masing-masing moment. Seperti itulah waktu itu. Dan tentu saja anda dan saya cenderung menanggap bahwa rangkaian waktu ini –pengaturan masa lalu, sekarang dan masa depan ini – bukanlah sekedar cara hidup kita tetapi sedemikianlah pula semua hal yang pernah ada. Kita cenderung berasumsi bahwa seluruh alam semesta dan Tuhan sendiri selalu bergerak dari masa lalu ke masa depan sebagaimana kita Tetapi banyak orang terpelajar tidak setuju dengan hal itu. Adalah para teolog yang pertama-tama mucnul dengan ide bahwa beberapa hal (benda) sama sekali tidak terikat dengan waktu… Kemudian para filsuf mengambil ide ini ; dan sekarang beberapa ilmuwan memikirkan hal yang sama.

Hampir pasti bahwa Tuhan tidak didalam waktu. HidupNya tidak dalam moment yang saling mengikuti satu dengan yang lain. Jika satu juta orang berdoa pada malam ini jam setengah sebelas, Dia tidak mendengarkan semuanya dalam satu kepingan moment kecil yag kita sebut “setengah sebelas.” Setangah sebelas dan semua moment lainnya adalah selalu “sekarang “ bagiNya…. Memang sulit dimengerti, aku tahu. Biarkan aku mencoba memberi sesuatu yang tidak mirip tetapi sedikit sama. Umpamakan aku sedang menulis novel. Aku menulis “Mary meletakan pekerjaannya; sesaat kemudian terdengar ketukan pintu.” Untuk Mary yang harus hidup dalam waktu khayalan dala kisahku, tidak ada jeda antara meletakan pekerjaannya dengan mendengarkan ketukan. Tetapi saya, yang adalah pencipta Mary, tidak hidup sama sekali dalam waktu khayalan ini. Diantara menulis setengah kalimat diatas, dan setengah kalimat berikutnya, aku mungkin duduk selama setengah jam dan tetap berpikir tentang Mary, Aku bisa berpikir tentang Mary… selama yang aku mau, dan waktu yang aku lewati… tidak akan muncul dalam waktu Mary.

Tentu ini bukan ilustrasi yang sempurna ,,, tetapi akan memberikan sedikit pandangan tentang apa yang saya percayai sebegai kebenaran. Tuhan tidak tergesa-gesa sepanjang jalur waktu sebagaimana pengarang dalam waktu khayalannya. Dia memberikan perhatian tidak berbatas bagi kita semua untuk dia berikan. Engkau sendirian bersama Dia seakan-akan engkaulah satu-satunya makhluk yang diciptakan. Ketika Kristus mati, Dia mati bagimu secara individu sebesar sebagaimana engkaulah satu-satunya manusia di dunia.

Jika engkau membayangkan waktu sebagai garis lurus yang harus kita jalani maka engkau mesti hayalkan Tuhan sebagai keseluruhan halaman dimana garis ini dituliskan. Kita hidup pada bagian baris itu setahap demi setahap; kita harus meninggalkan A di belakang sebelum kita mendapatkan B, dan tidak bisa mendapatkan C sebelum meninggalkan C. Tuhan dari atas atau dari luar, atau keseluruhanya isi dari seluruh garis, dan Dia melihat segalanya.

Ide ini penting untuk dimengerti karena menghilangkan beberapa kesulitan yang muncul dalam KeKristenan. SEbelum saya menjadi Kristen, salah satu keberatan saya adalah ini; Orang Kristen berkata bahwa Allah yang abadi yang ada dimana-mana yang menjaga seluruh alam semesta, suatu saat menjadi manusia. Baiklah, kataku, lalu bagaimana seluruh alam semesta berjalan sementara Dia menjadi seorang bayi, atau ketika Dia tidur? Bagaimaan bisa Dia pada saat yang sama Allah yang tau segalanya tetapi juga seorang manusia yang bertanya kepada murid-Nya “siapa yang menyentuhKu?”
Kamu akan melihat bahwa kekurangan pandangan ini terletak pada kata penunjuk waktu : “ketika Dia masih bayi” – “Bagaimaan Dia bisa pada saat yang sama.” Dengan kata lain saya berasumsi bahwa hidup Kristus sebagai Tuhan, terikat dengan waktu, dan hidupNya sebagai manusia Yesus di Palestina adalah periode singkat yang mengambil sebagian waktuNya – sebagiamana pelayananku dalam ketentaraan mengambil sebagian waktu dari total waktu hidupku. Dan begitulah mungkin cara sebagian besar dari kita dalam memikirkan hal ini. Kita menggambarkan Allah hidup melewati masa ketika hidupNya sebagai manusia, terdapat di masa depan dan datanglah masa sekarang dan menuju ke periode dimana Dia bisa melihat kebelakang sebagai mana sesuatu dimasa lalu. Tetapi ide-ide ini tidak berhubungan dengan fakta yang asli. Anda tidak bisa mencocokan hidup Kristus di bumi dengan pola hubungan waktu dengan hidupNya karena Tuhan melampaui ruang dan waktu.


Kutipan yang panjang, dan saya harap anda mengerti intinya, bahwa tidak ada yang bisa membatasi Tuhan, bahkan ruang dan waktu. Bagaimana bisa kita mengekang kekuasaan kita, bahkan dengan logic kita? Spekulasi kita tentang keterbatasan Tuhan, bahwa Dia tidak mungkin mengambil bentuk menjadi manusia, tidak mungkin Dia tiga pribadi tapi tetap satu Tuhan, tidak mungkin Dia menyaksikan bangkitnya Dia dari kubur, bukankah itu semua membatasi kemahakuasaanNya. Saya tidak mengatakan bahwa Dia mungkin melakukan segalanya, contohnya, Dia tidak mungkin menjadi Iblis, tetapi ada begitu banyak hal yang diluar akal sehat kita yang bisa Dia lakukan, sehingga bagaimana bisa kita membatasi kekuasaanNya dengan akal sehat kita?